Main Menu

Aksi Walk-Out Ribuan Siswa Amerika Untuk Kontrol Senjata Api

Aulia Putri Pandamsari
13-03-2018 14:45

Ribuan siswa dan guru di sekolah Amerika Serikat akan kembali mengadakan walkout sebagai bentuk peringatan sekaligus aksi protes untuk menghormati meninggalnya 17 siswa SMA Marjory Stoneman Douglas, Florida yang terbunuh dalam aksi penembakan pada 14 Februari lalu. (REUTERS/Colin Hackley/RT)

Washington, Gatra.com. Ribuan siswa dan guru di sekolah Amerika Serikat akan mengadakan walkout sebagai bentuk peringatan sekaligus aksi protes untuk menghormati meninggalnya 17 siswa SMA Marjory Stoneman Douglas, Florida yang terbunuh dalam aksi penembakan pada 14 Februari lalu.


Aksi walkout yang rencananya akan dilaksanakan pada Rabu(14/3) itu akan berlangsung selama 17 menit, dimana peserta akan menyerukan kepada anggota parlemen untuk meloloskan Undang-Undang pengetatan penggunaan kontrol senjata. Selain itu, mereka juga meminta kongres untuk melakukan pemeriksaan latar belakang sebelum menjual senjata, serta meloloskan aturan hukum yang memberi kewenangan pada pengadilan untuk melucuti orang-orang yang menunjukkan tanda-tanda akan perilaku kekerasan.


Seperti dikutip dari CNN.com, sebuah organisasi bernama EMPOWER memperkirakan akan terjadi lebih dari 2500 walkout besok. Meskipun ada banyak sekolah yang mengizinkan muridnya untuk melakukan walkout, namun ada beberapa sekolah yang melarangnya. Alasannya karena masalah keamanan dan menggangu kegiatan mengajar dalam kelas.


Seperti yang dilakukan oleh Washoe County School District di Nevada. Mereka meminta murid-muridnya untuk berpartisipasi dengan cara lain, di antaranya “Mengikatkan pita hitam di pagar sekolah atau melakukan pengheningan cipta.”


Setelah aksi walkout besok, para siswa yang menjadi survivor dari aksi penembakan di Marjory Stoneman Douglas akan mengadakan “March for Our Lives” sebuah demonstrasi besar-besaran yang akan dilakukan pada 24 Maret mendatang dengan pantauan satelit yang direncanakan di seluruh Amerika Serikat.


Sementara itu, sebuah statement yang dikleuarkan dari Gedung Putih Amerika Serikat pada hari Minggu, mengatakan bila Presiden Trump seperti dikutip dari The Huffington Post tidak mendukung adanya pemeriksaan latar belakang bagi pembeli senjata api tetapi mendukung pengeluaran dana yang lebih banyak untuk mempersenjatai staf dan guru, yang memungkinkan lebih banyak senjata di sekolah.


Trump sebelumnya juga menyarankan untuk menaikkan usia minimum dari usia 18 ke usia 21 bagi pembeli senjata yang diperuntukkan bagi militer seperti yang digunakan dalam aksi penembakan di Florida tersebut. Namun, tidak ada lagi penyebutan mengenai hal itu dalam statement yang dikeluarkan oleh Gedung Putih hari Minggu kemarin.


Reporter: AP

Editor: Rosyid

 

Aulia Putri Pandamsari
13-03-2018 14:45