Main Menu

Citigroup Bersedia Membayar US$ 100 Juta Lebih Karena Skandal Libor

G.A Guritno
16-06-2018 08:26

Ilustrasi.(REUTERS/Mike Segar/re1)

New York, Gatra.com - Citigroup Inc. setuju membayar total US$ 100 juta kepada 42 negara bagian di AS terkait penyelesaian atas penyelidikan kasus perilaku curang dengan memanipulasi suku bunga untuk mempengaruhi instrumen keuangan yang nilainya mencapai triliunan dolar.

 

Penyelesaian kasus itu diumumkan Jumat (15/6) oleh beberapa negara bagian, yang menuduh Citigroup salah mengartikan integritas tolok ukur Libor kepada pemerintah negara bagian dan lokal, organisasi nirlaba dan mitra perdagangan institusional, yang kadang hanya demi melindungi reputasi bank itu sendiri.

Libor atau London Interbank Offered Rate merupakan acuan tingkat suku bunga pinjaman antar bank. Libor menjadi acuan penetapan suku bunga untuk kartu kredit, hipotek, pinjaman pelajar dan transaksi lainnya.

"Kami tidak memiliki toleransi terhadap perilaku curang atau manipulatif yang merusak pasar keuangan kami," tandas Jaksa Agung New York Barbara Underwood dalam sebuah pernyataan seperti dikutip Reuters. "Lembaga keuangan memiliki tanggung jawab dasar untuk berbisnis sesuai aturan - dan kami akan terus meminta pertanggung jawaban atas siapa saja yang tidak menjalankannya."

Kesepakatan itu adalah perkembangan terbaru dalam penyelidikan oleh pemerintah di seluruh dunia terhadap memanipulasi suku bunga acuan, salah satu skandal besar yang menyebabkan perombakan budaya industri dalam satu dekade terakhir. Total denda global skandal itu telah mencapai US$ 9 miliar. Pada bulan Oktober 2017 lalu, Deutsche Bank membayar 45 negara senilai US$ 220 juta dalam bentuk penalti dan pemecatan pelaku untuk menyelesaikan penyelidikan di AS dan Inggris.

Karena skadal tersebut maka sejumlah bank melakukan pembenahan internal yang mendasar, termasuk Citigroup. "Citi telah mengadopsi reformasi seluruh industri yang terkait dengan partisipasi dalam suku bunga yang ditawarkan antar bank dan suku bunga acuan lainnya dan melakukan investasi besar dalam sistem, kontrol dan proses pengawasannya untuk lebih waspada terhadap perilaku yang tidak pantas," kata bank dalam pernyataan yang dikirim melalui email seperti dikutip oleh Bloomberg.

Jaksa Agung mengatakan bank juga telah setuju untuk bekerja sama sepenuhnya dalam penyelidikan yang sedang berlangsung. Yang menjadi masalah adalah apakah bank-bank melaporkan biaya pinjaman mereka secara akurat untuk membantu menetapkan standar global, atau melakukan sedikit perubahan untuk menghindari publikasi suku bunga pinjaman yang lebih tinggi yang mungkin mengisyaratkan masalah di bank.

''Citigroup kadang membuat pengajuan Libor dolar AS yang tidak konsisten dengan tarif mereka dan berkontribusi pada sejumlah Libor yang tidak akurat, kadang-kadang untuk menghindari stigma biaya pinjaman yang tinggi,'' kata Jaksa Agung. Dalam pemberian Libor, bank terkadang juga meminta rekan-rekan mereka di unit lain untuk menghindari penawaran suku bunga lebih tinggi daripada pengajuan resmi bank.

Perjanjian penyelesaian berpijak pada komunikasi elektronik dan telepon yang diperoleh dalam penyelidikan kasus tersebut, termasuk komunikasi pada 28 Maret 2008, antara manajer yang berbasis di New York dan mantan pengurus Libor ke salah satu bagaian pencadangannya.

Pesan yang lain menunjukkan pengawas menyatakan keprihatinan bahwa Libor yang tinggi akan menandakan bank itu "dalam masalah" sementara yang terlalu rendah akan menarik perhatian yang tidak diinginkan. Bank memindahkan pengajuan Libor setelah laporan Wall Street Journal pada bulan April 2008 mempertanyakan apakah pengajuan Libor benar-benar mencerminkan suku bunga pinjaman bank.

Pesan lainnya barasal dari seorang ahli strategi keuangan Citi dengan mengatakan bahwa  Asosiasi Bankir Inggris, badan yang mengawasi Libor, “hanya menempelkan kepalanya di pasir (seperti perilaku unta) dan tidak mengakui apa yang diketahui oleh semua orang di pasar - LIBOR dimana-mana tidak ada, bank dapat (atau mungkin tidak) memperpanjang kredit tanpa jaminan."

Pada bulan Agustus 2017, Citigroup setuju untuk membayar US$ 130 juta untuk menyelesaikan gugatan perdata oleh pembeli over-the-counter, di mana bank diduga bersekongkol untuk memanipulasi Libor dolar AS. Over-the-counter atau OTC merupakan sebuah pasar modal yang tidak terdaftar pada bursa efek utama atau main stock exchange seperti contohnya Bursa Efek Indonesia (BEI).

OTC adalah mekanisme lain memperdagangkan efek. Wujud pasar OTC berupa jaringan telekomunikasi yang ada di berbagai tempat dimana pembeli dan penjual dari efek tertentu bisa dipertemukan bersama dengan bantuan dealer atau bisa langsung dengan jasa perusahaan pialang. Harga pasar dari efek di OTC terbentuk karena pertemuan antara kekuatan penawaran dan permintaan dari dealer.

Gugatan kasus tersebut sudah dimulai pada tahun 2011 ketika kota Baltimore menggugat bank-bank yang menetapkan Libor. Investor termasuk kota Baltimore dan Universitas Yale di New Haven Connecticut menuduh 16 bank berkonspirasi untuk memanipulasi Libor.

Pada tahun 2015, mantan pialang UBS dan Citigroup Tom Hayes menjadi pialang pertama yang dihukum karena kecurangan Libor. Dia diganjar 14 tahun penjara, lalu dipotong menjadi 11 tahun.

G.A Guritno
16-06-2018 08:26