Main Menu

Brett Kavanaugh, Calon Hakim Agung Yang Pro Kepemilikan Bebas Senjata

Bernadetta Febriana
29-07-2018 16:11

Brett Kavanaugh, calon hakim agung pilihan Presiden Donald Trump.(Reuters/Leah Millis/re1)

Jakarta, gatra.com - Amerika Serikat nampaknya masih akan jauh dari aturan pelarangan kepemilikan senjata secara bebas dan teror penembakan massal. Brett Kavanaugh, calon hakim agung pilihan Presiden Donald Trump, memberikan pernyataan dukungan atas kebebasan untuk memiliki senjata untuk masyarakat sipil.

Dikutip dari AP, Kavanaugh, lulusan Yale yang dikenal sangat konservatif, pernah menyatakan bahwa keputusan negara bagian District of Columbia yang melakukan pelarangan atas senjata semi otomatis dan mewajibkan registrasi atas senjata yang dimiliki masyarakat saat itu, adalah inkonstitusional.

Tahun 2011 saat masih menjadi hakim di pengadilan banding, Kavanaugh menyatakan keyakinannya bahwa masyarakat Amerika Serikat bisa menjaga baik-baik senjatanya dan tidak akan sembarangan menggunakan senjata tersebut, termasuk AR 15. Padahal, senjata semi otomatis ini adalah yang paling banyak digunakan di kasus-kasus penembakan massal di Amerika Serikat.

Para politisi dan aktivis yang saat ini sedang berjuang untuk menciptakan aturan pembatasan kepemilikan senjata, makin pesimis usaha mereka akan tercapai dengan ditunjuknya Kavanaugh sebagai hakim agung. Apalagi, Kavanaugh memang mendapatkan dukungan dari Asosiasi Rifle Nasional Amerika Serikat, yang secara terang-terangan memajanga foto Trump dan Kavanaugh di halaman website mereka.

Kekhawatiran masyarakat Amerika Serikat makin menjadi nyata saat Sabtu (28/7) malam di New Orleans, terjadi penembakan massal di tengah keramaian yang mengakibatkan 3 orang tewas - 2 pria 1 perempuan dan 7 lainnya luka-luka.

Kedua penembak yang hingga saat ini belum tertangkap, dikatakan oleh saksi melakukan penembakan secara acak dengan menggunakan senjata laras panjang semi otomatis dan sebuah pistol. Menurut keterangan polisi setempat, kedua pelaku mendekati kerumunan korban dari belakang kemudian menghamburkan tembakan berkali-kali. 

Mungkin bagi Kavanaugh, tewasnya 3 orang di New Orleans dan horornya berbagai aksi penembakan massal di Amerika Serikat, belum cukup untuk melarang kepemilikan senjata secara bebas, terutama senjata semi otomatis.


 Editor : Bernadetta Febriana 

 

Bernadetta Febriana
29-07-2018 16:11