Main Menu

Sanksi AS Batasi Ekspor Iran, Harga Minyak Dunia Menguat

Anthony Djafar
04-09-2018 07:13

Kilang minyak (Reuters/yus4)

New York, Gatra.com - Harga minyak dunia kembali menguat didukung kekhawatiran penurunan produksi Iran yang akan memperketat pasar setelah sanksi Washington akan diberlakukan pada November mendatang. Namun, kenaikan tersebut dibatasi pasokan yang lebih tinggi dari negara-negara OPEC dan Amerika Serikat.

 

Kantor berita reuters melaporkan bahwa minyak mentah Brent secara global yang diperdagangkan di London ICE Futures Exchange mengalami peningkatan 37 sen pada pengiriman Oktober menjadi USD78,01 per barel pada pukul 18.54 GMT, di New York, pada Senin atau Selasa (4/9) dini hari.

Sedangkan minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman yang sama juga meningkat 0,29 dolar AS atau 0,41 persen menjadi 70,09 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Harga kedua patokan ini telah menguat selama dua minggu terakhir, dengan Brent naik lebih dari 10 persen, didukung ekspektasi bahwa pasokan global akan mengetat pada tahun ini.

Selama perdagangan berlangsung, pasar mencatat volume yang tipis karena liburan hari buruh di AS.

Di satu sisi, koalisi pimpinan-Saudi yang berperang di Yaman melaporkan bahwa mereka telah mencegat dan menghancurkan sebuah rudal balistik yang ditembakkan oleh Houthi --beraliansi dengan Iran-- di kota Jizan, wilayah selatan Saudi. Secara terpisah mengatakan bahwa mereka menargetkan fasilitas Saudi Aramco.

Sebuah tweet oleh TV Al Arabiya milik Saudi, atau Huthi dalam sebuah tweet oleh al-Masirah TV melaporkan tidak ada kerusakan yang timbul dari pihak koalisi. Sanksi-sanksi Washington sudah mempersempit ekspor dari Iran.

"Ekspor dari produsen terbesar ketiga OPEC itu jatuh lebih cepat dari perkiraan dan yang lebih buruk akan datang menjelang gelombang kedua sanksi Amerika," kata Stephen Brennock, analis PVM Oil Associates, London. "Ketakutan akan terjadinya krisis pasokan mendorong traksi."

Stephen Innes, Kepala Perdagangan untuk Asia-Pasifik di broker OANDA, Singapura, mengatakan Brent "didukung oleh gagasan bahwa sanksi Amerika terhadap ekspor minyak mentah Iran pada akhirnya akan mengarah pada pasar yang terbatas".

Sedangkan analis di Emirat NBD, Dubai, Edward Bell, sepakat. Bahwa produksi Iran sudah menunjukkan tanda-tanda penurunan, yakni jatuh 150.000 bph bulan lalu, setelah importir minyak Iran sudah akan bergerak menjauh dari mengambil pengiriman. Sekalipun pasar minyak global masih mendapatkan pasokan yang cukup baik.

Survei Reuters menunjukkan, produksi OPEC naik 220.000 barel per hari pada Agustus ke tertinggi tahun ini 32,79 juta barel per hari. Produksi ini didorong oleh pemulihan produksi Libya dan ekspor dari Irak selatan mencapai rekor tertinggi.

Pengebor AS menambahkan rig minyak untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, meningkatkan jumlah rig sebanyak dua rig menjadi 862 rig. Jumlah rig yang tinggi telah membantu mengangkat produksi minyak mentah AS lebih dari 30 persen sejak pertengahan 2016 menjadi 11 juta barel per hari.

Sementara itu, masih ada ketegangan sengketa perdagangan antara Amerika Serikat dan negara-negara besar lainnya, termasuk China dan Uni Eropa, yang diperkirakan akan merugikan permintaan minyak jika tidak segera diselesaikan.

Adapun survei swasta menyebut aktivitas manufaktur China tumbuh pada laju paling lambat dalam lebih dari setahun pada Agustus, dengan pesanan ekspor menyusut untuk bulan kelima.

Innes dari OANDA mengatakan masih terlalu dini untuk menyebut apakah perlambatan ekonomi akan melemahkan harga minyak.

"Belum jelas apakah tekanan ekonomi semacam itu akan menjatuhkan harga minyak," kata Innes.


Anthony Djafar

Anthony Djafar
04-09-2018 07:13