Main Menu

Persediaan AS Turun, Minyak Brent Sentuh 80 Dollar

Anthony Djafar
13-09-2018 06:31

Menteri Energi Rusia Alexander Novak. (shutterstock_365411948/RT)

Artikel Terkait

New York, Gatra.com – Harta Minyak brent berjangka naik menyentuh 80 dolar AS per barel, pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi (13/9).

 

Kenaikan ini setelah persediaan minyak mentah AS turun lebih besar dari perkiraan dan sanksi AS terhadap Iran, sehingga menambah kekhawatiran atas pasokan minyak global.

Sebagaimana dikutip reuters, minyak mentah Brent untuk pengiriman November bertambah 0,68 dolar AS menjadi 79,74 dolar per barel di London ICE Futures Exchange. Patokan global ini sebelumnya sempat mencapai 80,13 dolar AS per barel, level tertinggi sejak 22 Mei.

Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober melompat 1,12 dolar AS menjadi ditutup di 70,37 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, tertinggi dalam satu pekan terakhir.

Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan persediaan minyak mentah AS turun 5,3 juta barel pada pekan lalu. Ini lebih besar daripada perkiraan para analis untuk penurunan 805.000 barel.

"Saat ini, penarikan stok minyak mentah mencapai 5,3 juta barel, jauh lebih dalam dari penurunan (American Petroleum Institute), tetapi secara signifikan lebih besar dari penarikan normal sekitar satu juta barel untuk minggu khusus ini," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates.

Ini juga didukung karena kekhawatiran pasokan akan sanksi-sanksi AS terhadap Iran. Pemerintahan Trump mengatakan akan memberlakukan sanksi, sehingga pedagang fokus pada dampak potensial terhadap pasokan global. Ini akan menargetkan ekspor minyak Iran mulai November.

"Iran semakin keasyikan dari pasar minyak mentah. Dalam beberapa minggu terakhir, telah terlihat tekanan seperti yang diperkirakan pada aliran minyak mentah Iran yang mulai terbentuk, dengan arus keluar secara keseluruhan menurun tajam," kata konsultan JBC Energy.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak memperingatkan dampak sanksi AS terhadap Iran.

"Ini adalah ketidakpastian besar di pasar, bagaimana negara-negara, yang membeli hampir dua juta barel per hari (bph) minyak Iran, akan bertindak. Situasi harus diawasi dengan cermat, keputusan yang tepat harus diambil," katanya.

Novak menyebut pasar minyak global "rapuh" karena risiko geopolitik dan gangguan pasokan, tetapi negaranya dapat meningkatkan produksi jika diperlukan.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak pada 2019 dalam laporan bulanannya. Ia mengatakan, dengan meningkatnya tantangan di beberapa negara berkembang akan dapat berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi global.

OPEC memperkirakan pertumbuhan permintaan 1,41 juta barel per hari pada 2019, turun 20.000 barel per hari dari perkiraan sebelumnya.

Pedagang minyak juga mengamati perkembangan Badai Florence kategori 4, yang diperkirakan menerjang pendaratan di Pesisir Timur AS pada Jumat mendatang.

Meski produksi minyak mentah tidak akan terpengaruh oleh badai besar, tetapi evakuasi lebih dari satu juta penduduk, serta bisnis, telah mendorong lonjakan permintaan bahan bakar dalam jangka pendek.

Dolar AS yang lebih lemah juga membuat minyak yang dihargakan dalam greenback lebih menarik bagi pemegang mata uang lainnya. Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,47 persen menjadi 94,8035 pada pukul 15.00 waktu setempat (19.00 GMT).


Anthony Djafar

Anthony Djafar
13-09-2018 06:31