Main Menu

Wapres JK: Tantangan GNB saat ini Kesenjangan dan Konflik

Anthony Djafar
18-09-2016 09:24

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (kiri) bersama Presiden Venezuela Nicolas Maduro (AFP/Yoset Montes/HR02)

Pulau Margarita, GATRAnews – Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengingatkan bahwa tantangan utama Gerakan Non-Blok (GNB) saat ini bukan lagi menghadapi perang dingin, namun ketidakmerataan dan kesenjangan pembangunan antar negara GNB, serta konflik internal dan konflik antar anggota GNB.

 

“Saya perlu tegaskan bahwa terdapat kebutuhan mendesak bagi Gerakan Non-Blok (GNB) untuk melakukan reformasi internal,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pidato yang disampaikan di Sesi Debat Umum KTT GNB, Venezuela pada 17 September 2016.

 

Wapres menyampaikan bahwa anggota GNB perlu menegakkan kembali prinsip dan nilai-nilai dasar GNB. “Prinsip dan nilai-nilai dasar GNB masih sangat relevan dan jika diterapkan secara benar, akan memberikan keberhasilan bagi GNB dalam menghadapi berbagai tantangan di abad ke-21 dan mencapai visinya,” kata Wapres JK melalui release dari Sekretariat Wapres (Setwapres) RI yang diterima GATRAnews, Minggu (18/9/16).

 

Wapres mengatakan bahwa ke depan, GNB perlu memberikan fokus kerja samanya terhadap beberapa aspek. Pertama, dengan menekankan bahwa kerja sama multilateralisme harus tetap menjadi fokus GNB. Untuk itu perlu peningkatan kontribusi GNB di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) khususnya dalam mempromosikan penyelesaian sengketa secara damai yang harus ditingkatkan. Dalam kaitan ini, Wapres JK menyampaikan rencana Indonesia untuk mencalonkan diri sebagai anggota tidak tetap DK-PBB periode 2019-2020.

 

Kedua, GNB kata JK juga harus memperkuat budaya perdamaian global (global culture of peace), khususnya melalui dialog antar peradaban.

 

Ketiga, GNB harus memperkuat tata kepemerintahan (good governance) dan demokrasi yang dapat berpengaruh terhadap upaya meminimalkan potensi terorisme, radikalisme dan ekstremisme.

 

Keempat, GNB harus meningkatkan kerja sama pembangunan, khususnya melalui Kerja Sama Selatan-Selatan. “Hal ini penting dalam pencapaian Agenda Pembangunan 2030,” JK menegaskan.

 

Selain menyampaikan area kerja sama yang harus diberi fokus GNB, Wakil Presiden JK tak lupa mengingatkan bahwa dengan 120 negara anggota, mewakili 60 persen dari anggota PBB, GNB memiliki daya tawar (leverage). Dan, hal ini seharusnya memberikan keberhasilan kepada GNB dalam mencapai visinya dan berkontribusi dalam upaya komunitas internasional mengatasi tantangan global.

 

Dalam pidatonya Wapres JK tak lupa menegaskan bahwa GNB masih memiliki hutang kepada warga Palestina yaitu kemerdekaan negaranya. Untuk itu, JK kembali menyerukan kepada anggota GNB untuk memberikan dukungan penuh kepada kemerdekaan Palestina, termasuk dukungannya terhadap proses perdamaian dalam mewujudkan solusi dua negara. Selain itu, “Pentingnya persatuan di Palestina bagi upaya untuk mencapai kemerdekaan,” tegas JK.

 

Dalam pertemuan itu, 10 negara ASEAN menyampaikan reservasinya mengenai perkembangan di Asia Tenggara yang dinilai tidak merefleksikan prinsip-prinsip yang dihormati oleh ASEAN dan tidak mencerminkan perkembangan terkini di Asia Tenggara.

 

Rangkaian KTT GNB ke-17 ini berlangsung mulai 13-18 September 2016 di Pulau Margarita, Venezuela. Sedangkan pertemuan tingkat kepala negara dan pemerintahan (KTT) berlangsung 17-18 September 2016 dan dihadiri sejumlah kepala negara dan pemerintahan negara anggota. KTT kali ini bertemakan; ¨Peace, Sovereignty and Solidarity for Development¨.


 

Reporter: Anthony Djafar

Editor: Dani Hamdani 

Anthony Djafar
18-09-2016 09:24