Main Menu

Wapres JK Ingatkan Ancaman “Perang Dagang” di KTT APEC

Anthony Djafar
18-11-2016 22:12

Wakil Presiden Jusuf Kalla (kiri) menghadiri APEC di Lima, Peru (AFP/Luka Gonzales/HR02)

Meksiko, GATRAnews - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla saat istirahat transit di Bandara Internasional Acapulco, Meksiko, mengatakan bahwa pertemuan APEC yang pertama dilaksanakan di Bogor, bertujuan meningkatkan perdagangan di asia pasifik. “Setelah itu tentu motor ekonomi ya di Amerika, Jepang waktu itu. Sekarang muncul China, dan lebih banyak negara lagi dari Amerika Selatan ini,” katanya kepada awak media sebelum bertolak menuju Peru, menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Lima, Peru pada 17-25 November 2016.

 

Dalam siaran pers yang dikirim Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) RI yang diterima GATRAnews Wapres mengatakan, adanya keinginan APEC untuk meningkatkan perdagangan saat ini bisa jadi berbalik menjadi “perang dagang” manakala presiden terpilih AS, Donald Trump menerapkan kebijakan perdagangan proteksionisme. “Karena itu pertemuan kali ini sangat penting untuk memberikan peringatan kepada semua pihak agar tetap berpegang teguh pada cita-cita APEC yang pertama melalui peningkatan perdagangan di asia pasifik,” katanya.

Dalam pertemuan APEC kali ini kata Wapres akan terasa sangat penting dari pertemuan sebelum-sebelumnya yang lebih banyak serimonial dan seminar tentang perdagangan. Kali ini menjadi pertemuan yang lebih penting karena menyangkut masalah prinsip. “Jadi ini masalah prinsip baru yang akan terjadi. Pertemuan APEC kali ini adalah suatu pertemuan prinsip baru, apakah meningkat atau menurun dari sisi perdagangan di kawasan asia pasifik,” katanya.

Menjawab pertanyaan awak media menyangkut pengaruh AS dalam pertemuan APEC kali, Wapres Jusuf Kalla menyebut bahwa Amerika tentu punya peran karena merupakan konsumen yang besar begitu juga Cina. Apalagi Indonesia juga banyak mengekspor ke AS seperti tekstil, garmen, makanan, sepatu, elektronik. “Nah, kalau nantinya AS menggunakan sistem proteksionis, maka tentunya akan mengganggu hubungan dagang selain Indonesia juga beberapa negara lainnyadan juga Cina,” katanya.

Untuk itu, kata Wapres, langkah yang paling penting harus dilaksanakan adalah bagaimana memperkuat kekuatan dagang dari dalam negeri. “Kita anggap saja dunia ini proteksionis. Kalau suatu negara menganggap dirinya proteksionis maka akan terjadi perang dagang, artinya masing-masing akan bersikap proteksionis. You kenakan saya 40 persen, maka kami juga akan melakukan hal yang sama,” kata Wapres.

Artinya, jika itu terjadi, lanjut Wapres maka akan membuat harga-harga menjadi mahal untuk diterima konsumen, sehingga menyebabkan perdagangan menjadi menurun. Dan, itu dapat berdampak buruk bagi negara yang menerapkannya. “Bisa saja berbalik imbasnya menyerang masyarakat Amerika sendiri. Terjadi daya beli menurun, industri habis. Kalau begitu konsumennya yang kena. Tentu negara-negara ini harus mewaspadai bahaya dari potensi terjadinya perang dagang itu. Nantinya semua itu akan dibahas dalam pertemuan-pertemuan ini,” katanya.


 

Reporter: Anthony Djafar

Anthony Djafar
18-11-2016 22:12