Main Menu

Aktor Penembakan Bandara Florida Mengaku Dikendalikan Pemerintah

Rosyid
18-01-2017 11:48

Artikel Terkait

Miami, GATRAnews - Esteban Santiago, 26, tersangka penembakan di bandara  Fort Lauderdale-Hollywood International Airport, Florida mengaku otaknya dikendalikan pemerintah saat melepaskan peluru. Namun ia kemudian mengubah pernyataannya. FBI menemukan fakta, polisi pernah menyita senjata maut yang digunakan pelaku sebelum dikembalikan lagi.

Hakim pengadilan AS, Laruna Salju menetapkan tanggal 30 Januari untuk sidang pembacaan dakwaan. Santiago bisa dihukum mati jika terbukti melakukan tindakan kekerasan dan mengakibatkan kematian. Hakim memerintahkan pria kulit putih berambut kelabu untuk tetap dalam tahanan.

"Dia telah mengaku semua fakta terkait penembakan itu. Mereka korban yang rentan," kata Asisten Kejaksaan AS Rick Del Toro kepada Time, Rabu (18/1).

Para penyelidik menjelaskan, Santiago membawa kotak senjata berisi pistol dan peluru secara legal. Setelah diambil dari bagasi, dia menuju kamar mandi. Di  dalam kamar mandi, dia mengisi peluru dan mengokang senjatanya. Begitu keluar dari kamar mandi dia menembak secara acak siapa saja yang ada didekatnya. Dia menghabiskan seluruh peluru, 15 butir dalam dua klip. Setelah menembak, dia berbaring dilantai. Polisi yang datang kemudian meringkusnya tanpa perlawanan.

Penyelidikan FBI menemukan bahwa  pistol Walther 9mm yang dipakai untuk menembak mati lima orang dan melukasi enam lainnya, 6 Januari lalu pernah disita  polisi Anchorage, Alaska setahun lalu. 

Menurut Agen FBI Michael Ferlazzo, Santiago adalah veteran perang Iraq dan prajurit Puerto Rico dan Alaska National Guard. Tahun lalu dia mengunjungi kantor FBI di Achorage, Alaska  tahun lalu. Dia mengeluh telinga mendengar suara-suara  dan menduga CIA telah mengendalikan pikirannya.  Hal itu mendorong polisi di Anchorage menyita senjatanya. Santiago sendiri kemudian diinapkan di rumah sakit jiwa.

Catatn medis Alaska Psychiatric Institute menunjukkan Santiago mendapat pengobatan anti-cemas tapi tidak sampai meresepkan obat-obatan untuk perawatan sakit mental yang serius seperti Schizophrenia. Dia diijinkan pulang setelah opname lima hari tanpa ada pembatasan apapun. Artinya bisa saja dia membeli dan memiliki pistol. Polisi juga mengembalikan senjata yang disita. Alasan rumah sakit, dia dianggap stabil.

Santiago sempat mengunjungi lapangan tembak sebelu memesan tiket sekali jalan dari Alaska ke Fort Lauderdale. Dalam wawancara pertama paska penembakan, Santiago mengklaim pikirannya dikendalikan pemerintah. Namun kemudian mengubah pengakuannya. Santiago mengatakan pada penyidik dia telah mengunjungi  situs-situs ISIS dan chatroom yang bersimpati pada gerakan itu. "Mereka kumpulan individu yang memiliki pemikiran yang sama yaitu merencanakan serangan," tutur Ferlazzo tentang chatroom itu.

FBI memeriksa komputer Santiago dan perangkat lainnya serta anggota keluarganya, namun sejauh ini para penyidik belum menemukan kaitan dengan jaringan teroris.  Bukti-bukti lain yang terkumpul sampai saat ini adalah video dari 20 kamera pengawas berbeda di bandara yang memperlihatkan seluruh adegan penembakan dari beragam sudut.  


 

Editor: Rosyid

Rosyid
18-01-2017 11:48