Main Menu

Trump Hapus Tradisi Merayakan Akhir Ramadan di Gedung Putih

G.A Guritno
15-06-2018 20:24

Presiden AS Donald Trump (REUTERS/Jonathan Ernst/yus4)

Washington D.C., Gatra.com - Presiden AS Donald Trump mematahkan tradisi dua dasawarsa akhir pekan ini dengan tidak menjadi tuan rumah makan malam di Gedung Putih yang menandai akhir bulan suci Ramadhan untuk sebuah perayaan Idul Fitri.

 

Keputusan tersebut membuat makan malam di hari terakhir menjalankan puasa tidak lagi diadakan di Gedung Putih. Padahal sejak 1999 saat Bill Clinton menjadi presiden, ia menjadikannya sebagai tradisi tahunan.

Sebaliknya, Trump menandai hari raya Idul Fitri hanya dengan sebuah pernyataan dan mengirimkan "salam hangat" kepada umat Islam yang merayakannya di seluruh dunia.

"Muslim di Amerika Serikat bersama-sama dengan orang-orang di seluruh dunia selama bulan suci Ramadhan telah fokus pada tindakan iman dan amal," demikian bunyi pernyataannya.

"Selama liburan ini, kami diingatkan akan pentingnya belas kasih, pengampunan, dan niat baik. Dengan umat Islam di seluruh dunia, Amerika Serikat memperbarui komitmen kami untuk menghormati nilai-nilai ini. Selamat Idul Fitri."

Libur Idul Fitri selama tiga hari dimulai pada hari Jumat dan menandai akhir bulan puasa, dimana dari matahari terbit hingga matahari terbenam melakukan puasa untuk membawa umat beriman lebih dekat kepada Tuhan dan mengingatkan mereka tentang penderitaan orang sakit dan miskin.

Kabar dari keputusan Trump untuk tidak menjadi tuan rumah makan malam - dimana para pemimpin Muslim AS, diplomat dan legislator biasanya hadir - telah banyak dikritik.

"Ini mengecewakan karena itu sudah menjadi tradisi yang baik," kata Imam Talib Shareef dari Nation's Mosque di Washington, D.C., kepada Newsweek. “Dengan menghentikannya (tradisi itu) berarti tidak mengirim pesan yang baik. Anda mendapatkan kesempatan untuk bermain golf dan berbagai hal lainnya. Bagaimana Anda tidak punya waktu untuk masyarakat Anda yang membutuhkan perhatian? Pesan yang dikirimkannya (Trump) adalah bahwa kami tidak begitu penting,” katanya.

Trump telah berulang kali mendapat kecaman karena apa yang dianggap sebagai retorika anti-Muslim, terutama selama kampanye kepresidenannya, ketika ia meminta pengawasan terhadap masjid-masjid di AS serta larangan terhadap Muslim memasuki negara itu.

Selanjutnya, awal tahun ini ia mengeluarkan larangan kontroversial bagi para pelancong dari beberapa negara yang didominasi Muslim, termasuk Iran, Libya, Suriah dan Yaman, demi melindungi AS dari "terorisme". Namun larangan itu dibatalkan oleh pengadilan AS karena dinilai diskriminatif.

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson juga mengeluarkan ucapan pada Idul Fitri tahun ini. “Liburan ini menandai puncak Ramadhan, sebulan di mana banyak pengalaman berarti dan menggali inspirasi melalui puasa, doa, dan amal. Hari ini menjadi kesempatan untuk merefleksikan komitmen bersama kami, untuk membangun komunitas yang damai dan makmur. Eid Mubarak."

Presiden AS Thomas Jefferson, yang merupakan penyokong kebebasan beragama, dilaporkan sebagai Presiden AS pertama yang menjadi tuan rumah makan malam berbuka puasa di Gedung Putih pada tahun 1805.

Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
15-06-2018 20:24