Main Menu

12 Intel Rusia Dituduh Retas Komputer Saat Pilpres AS

Bernadetta Febriana
14-07-2018 17:55

Rod Rosenstein (REUTERS/Leah Millis/yus4)

Artikel Terkait

Jakarta, gatra.com - Pemerintah Amerika Serikat mendakwa 12 orang intel militer asal Rusia dengan tuduhan meretas jaringan komputer Partai Demokrat saat berlangsungnya pilpres Amerika Serikat 2016 lalu, dimana perbuatan ini dianggap menguntungkan calon presiden asal Partai Republik, Donald Trump, yang kemudian memenangkan pemilu tersebut.

Menurut Deputi Jaksa Agung Rod Rosenstein dalam pernyataannya Jumat (13/07) kemarin mengatakan bahwa kedua bekas orang itu “secara aktif melakukan operasi cyber guna mengganggu proses pemilu presiden 2016”, demikian seperti dilansir Aljazeera.

Kedua belas orang tersebut meretas sistem komputer kandidat presiden asal Partai Demokrat, Hillary Clinton dan juga Partai Demokrat, kemudian mencuri beberapa informasi dan kemudian mempublikasikannya. Mereka saat itu bekerja untuk GRU, yang merupakan intelijen militer Rusia.

“Satu unit betugas untuk mencuri informasi dan satu unit yang lain bertugas untuk menyebarkan informasi tersebut,” ujar Rosenstein.

Merespon tuduhan tersebut, pihak Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa tidak ditemukan bukti bahwa kedua belas orang tersebut terkait dengan GRU ataupun kantor intelijen militer Rusia lainnya.

Pihak Kemenlu Rusia juga menyatakan bahwa kedua belas orang itu tidak terbukti melakukan peretasan terhadap sistem komputer baik Partai Demokrat maupun Hillary Clinton. Kemenlu Rusia juga menyayangkan adanya tuduhan tersebut karena merusak suasana sebelum pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang akan dilaksanakan di Helsinki, Finlandia, Senin lusa.


Editor : Bernadetta Febriana 

 

 

Bernadetta Febriana
14-07-2018 17:55