Main Menu

Megawati Resmikan Rumah Soekarno di Shenzhen

Dani Hamdani
17-10-2015 08:50

Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri (tengah) membuka selubung batu marmer, menandai dimulainya pembangunan

Megawati Soekarnoputri (tengah) meresmikan pembangunan "Rumah Soekarno" Shenzhen, Tiongkok, Senin (12/10/2015). (ANTARA News/ Rini Utami)

Beijing, GATRANews - Mantan Presiden Indonesia Megawati Soekarnoputri membuka selubung batu marmer, bertuliskan Rumah Soekarno di Qianhai, Shenzhen, Tiongkok, Senin (12/10/2015). Pembukaan selubung yang menandai pembangunan pusat kerjasama Indonesia-Tiongkok itu didampingi Ketua China Institute for Innovation and Reform Study, sekaligus penasihat presiden Tiongkok Zhang Bijian dan anggota Politbiro Partai Komunis Tiongkok, Komite Shezhen Tian Fu.

 

Peresmian rumah Soekarno ini merupakan salah satu rangkaian kunjungan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ke Tiongkok dari 12-15 Oktober. Megawati juga pembicara pada salah satu panel bertajuk "Political Leadership: New Concensus for Politic Party", pada forum International Conference of Asian Political Parties (ICAPP) di Beijing, didampingi Duta Besar RI untuk Tiongkok merangkap Mongolia Soegeng Rahardjo.

 

Namun yang lebih penting dari semua itu, putri mantan Presiden Soekarno ini diterima oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping di Balai Agung Rakyat, Beijing pada Kamis malam.

 

Presiden Xi yang menyapa Megawati sebagai teman lama, menyampaikan gambaran umum tentang "Jalur Sutra Maritim Abad 21" dan berharap proyek tersebut dapat bermanfaat pula bagi Indonesia, bagi kemajuan bersama Indonesia dan Tiongkok di masa datang.

 

"Kami bicara bagaimana agar kemitraan strategis komprehensif yang telah disepakati kedua negara dapat lebih dimantapkan dan dijabarkan lebih nyata lagi, sehingga menguntungkan bagi kedua pihak," kata Megawati seperti dilaporkan Antara, dari Beijing.

 
Dalam kunjungannya ke Tiongkok Megawati didampingi Ketua Bidang Politik PDIP Hugo Andreas Pairera dan Ketua Bidang Kelautan dan Perikanan PDIP Rokhmin Dahuri, mantan Duta Besar RI untuk Tiongkok merangkap Mongolia Imron Cotan.
 
 
Menurut Megawati, banyak kerja sama yang dapat dibangun dengan Tiongkok, terlebih Indonesia dan Tiongkok memiliki kesamaan dalam membangunan sektor maritim.
 
 
"Tiongkok memiliki proyek Jalur Sutra Maritim Abad 21, dan kita memiliki proyek Poros Maritim, ini peluang sangat bagus bagi Indonesia untuk bisa mengembangkan diri, tentu dengan tetap melihat peluang yang sesuai dengan kebutuhan kita," kata Megawati.
 

"Kami ingin agar kerja sama tersebut juga turut memajukan wilayah Timur Indonesia, karena fokus pembangunan kita kan ke Timur, tanpa mengabaikan wilayah barat Indonesia yang telah berkembang maju," ujarnya menambahkan.

 
Megawati menyatakan kokohnya hubungan Indonesia dan Tiongkok telah tercatat dalam tinta emas sejarah kedua bangsa. Kunjungan muhibah Laksamanan Cheng Ho sekitar abad 15 ke bumi Nusantara, merupakan dasar sekaligus tonggak sejarah yang kokoh bagi hubungan persaudaraan serta pershabatan kedua bangsa, kedua negara.

Interaksi antarkedua bangsa, dalam konteks jalur sutra tidak dapat dipungkiri turut memperkaya dan menumbuhkembangkan budaya di kedua negara, bahkan jauh melampaui batas-batas negara seperti yang telah dikenal oleh generasi ke generasi di Indonesia. 

"Indonesia dan Tiongkok adalah dua bangsa yang memiliki nilai kebudayaan sangat tua dan tinggi. Kita tdak boleh lengah dalam menyikapi setiap berkembangan global yang terjadi. Perkuatan nilai-nilai budaya bangsa harus terus dilakukan, ditumbuhkkembangkan, agar kita tetap mampu menghadapi segala tantangan berat di masa depan, sekaligus mememberikan kontribusi maskimal bagi terciptanya perdamaian dunia," tutur Megawati.

Tentang kecenderungan Indonesia terus menjadi pasar bagi produk-produk asing, termasuk produk Tiongkok jika Jalur Sutra Maritim Abad 21 Tiongkok dan Poros Maritim Indonesia, terhubung, ia mengatakan,"Itu semua tergantung kita. Karenanya dalam Pemerintahan Presiden Jokowi saat ini kita tekankan Trisakti yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara sosial budaya," ungkapnya.

Indonesia memiliki sumber daya alam, serta potensi ekonomi yang melimpah. "Kita harus dapat memilih, memilah, mana yang dapat kita kembangkan dan produksi sendiri, mana yang kita masih harus impor. Jadi berdikari, bukan berarti kita menutup diri dan anti-asing. Kita yang harus mampu memilih dan memilah," kata Megawati.


Editor: Dani Hamdani 

Dani Hamdani
17-10-2015 08:50