Main Menu

Darurat Rohingya, Pemerintah Harus Evaluasi Hubungan Dengan Myanmar

Wem Fernandez
30-08-2017 22:04

Unjuk rasa terkait pembantaian warga Muslim etnis Rohingya, Myanmar (Antara/Irsan Mulyadi/yus4)

Jakarta, GATRAnews - Wakil Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Meutya Hafid, meminta pemerintah Myanmar segera menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap etnis Rohingya di negaranya.

 
Pemerintah Indonesia juga harus mengevaluasi hubungan bilateral dengan Myanmar jika kekerasan masih berlanjut.
 
“Aksi pembakaran desa-desa Rohingya oleh tentara dan polisi Myanmar sudah di luar batas kemanusiaan. Myanmar harus menghentikan tindakan ini, jika tidak, ada baiknya pemerintah mengevaluasi hubungan bilateral dengan Myanmar,” tegas Meutya dalam pesan elektronik yang diterima wartawan, Rabu (30/8).
 
Dia menambahkan, aksi pemerintah Myanmar dikhawatirkan mengganggu stabilitas keamanan di Asia Tenggara. Pada 2012-2015 lalu, gelombang pengungsi Rohingya diterima oleh tiga negara, Indonesia, Thailand dan Malaysia. Dengan kekerasan yang dilakukan sekarang, Meutya tidak ingin pengungsi menyulitkan negara ASEAN lainnya.
 
Meutya mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo dan Menlu RI dalam mendukung penyelesaian aksi kekerasan terhadap masyarakat Rohingya. Namun, tekanan yang lebih keras perlu diberikan melalui keberadaan organisasi tingkat regional maupun internasional.
 
“Indonesia bisa bawa permasalahan ini ke PBB untuk dilakukan sidang darurat,” kata dia.
 
Sebelumnya, sejumlah kelompok aktivis hak asasi manusia melaporkan bahwa pembakaran dengan sengaja desa-desa yang menjadi tempat tinggal bagi warga Rohingya di Rakhine, Myanmar terjadi, Selasa (29/8). Pasukan militer negara itu dituding berada di balik peristiwa ini.
 
Banyak bangunan dan area lingkungan warga, khususnya di Maungdaw, utara Rakhine yang terlihat terbakar dan ditunjukkan melalui media sosial. Diyakini pasukan militer dengan sengaja melakukan tindakan keras sebagai upaya menekan kelompok militan yang diduga berasal dari etnis Rohingya.
 
Dilaporkan oleh Arakan Times, pasukan tentara Myanmar serta polisi penjaga perbatasan di Rakhine membakar setidaknya 1.000 rumah warga Rohingya. Tindakan keras ini dimulai pada Sabtu (26/8) lalu dan berlanjut hingga Senin (28/8).


Reporter: Wem Fernandez 
Editor: Arief Prasetyo

Wem Fernandez
30-08-2017 22:04