Main Menu

Prediksi Korsel 2018, Korut Kemungkinan Buka Dialog

Arif Prasetyo
26-12-2017 21:02

Militer Korea utara (AFP/yus4)

Seoul, Gatracom - Korea Selatan memprediksikan Korea Utara akan membuka perundingan dengan Amerika Serikat tahun depan. Setelah Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat memberlakukan sanksi baru yang lebih keras terhadap Korea Utara. Sanksi ini dikarenakan Korea Utara melakukan uji coba rudal balistik antar benua pada 29 November lalu yang bisa menjangkau AS.


"Korea Utara akan melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat, sambil terus berupaya untuk diakui sebagai negara pemilik nuklir secara de facto," kata Kementerian Unifikasi Korea Selatan dalam sebuah laporan, Selasa (26/12).

Sebagaimana dilansir laman Reuters, Kementerian Pertahanan Korsel mengatakan, akan menetapkan empat unit untuk beroperasi di bawah pejabat baru yang mengawasi kebijakan Korea Utara, yang bertujuan untuk "mencegah dan menanggapi ancaman nuklir dan rudal Korea Utara".

Ketegangan meningkat karena program nuklir dan rudal Korea Utara, yang terus bertentangan dengan resolusi PBB. Security Council, dengan retorika perang yang berasal dari Pyongyang dan Gedung Putih.

Sementara, Diplomat AS telah menjelaskan bahwa mereka mencari solusi diplomatik namun Presiden Donald Trump menyindir pembicaraan dengan Korut tidak berguna. Ia mengatakan Pyongyang harus berkomitmen untuk melepaskan senjata nuklirnya sebelum melakukan perundingan.

Dalam sebuah pernyataan seperti dilansir kantor berita resmi KCNA, Korea Utara mengatakan, Amerika Serikat ketakutan dengan kekuatan nuklirnya dan semakin sering melakukan ujicoba sehingga menjatuhkan sanksi dan tekanan terberat di negara kita".

China, sekutu utama Korut dan Rusia mendukung sanksi terakhir PBB, yang berusaha membatasi akses Korea Utara terhadap produk minyak bumi dan minyak mentah serta pendapatannya dari pekerja di luar neger. Sementara pada Senin (25/12) juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying menyerukan semua negara untuk meredakan ketegangan.

Pada Selasa, Beijing merilis data pabean yang menunjukkan China tidak mengekspor produk minyak ke Korea Utara pada bulan November, tampaknya akan melampaui sanksi PBB.

China biasanya mengekspor sumber utama bahan bakar ke Korea Utara, seperti bensin, avitur, solar atau bahan bakar lainnya.

Sebaliknya, China juga tidak mengimpor bijih besi, batu bara atau timbal dari Korea Utara pada November 2017.

Dalam perkiraan 2018, Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengatakan, Korea Utara pada akhirnya akan menemukan cara untuk mengurangi dampak sanksi itu.

Surat kabar harian Joongang Ilbo, mengutip seorang pejabat pemerintah Korea Selatan yang tidak disebutkan namanya, melaporkan pada hari Selasa bahwa Korea Utara juga dapat mempersiapkan peluncuran satelit ke luar angkasa.


Editor: Arief Prasetyo

Arif Prasetyo
26-12-2017 21:02