Main Menu

Liputan Rohingya, Dua Wartawan Reuters Dituntut 14 Tahun Penjara

Birny Birdieni
15-01-2018 14:12

Seorang Polisi Myanmar berjaga di pengadilan saat berlangsungnya sidang terhadap dua wartawan Reuters Kyaw Soe Oo dan Wa Lone di Yangon, (10/1). (AFP/YE AUNG THU/FT02)

Yangon, Gatra.com- Jaksa Myanmar mengajukan tuntutan kepada dua wartawan Reuters dengan ancaman hukuman penjara maksimum 14 tahun atas dasar Undang-Undang Rahasia Resmi. Kedua jurnalis tersebut dituntut karena memiliki sejumlah dokumen yang diklaim sebagai rahasia negara.

 

Adalah Wa Lone (31) dan Kyaw Soe Oo (27) yang telah ditahan sejak 12 Desember lalu. Mereka ditangkap setelah diundang menemui petugas polisi saat makan malam. Menurut keterangan dari anggota keluarga keduanya, mereka ditangkap setelah diberi beberapa dokumen oleh petugas yang mereka temui.

 

Keduanya telah bekerja untuk tugas jurnalis Reuters di wilayah krisis di negara bagian Rakhine, Myanmar di mana menurut perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa ada sekitar 655.000 Muslim Rohingya telah melarikan diri dari tindakan keras militer terhadap militan. "Mereka menangkap kami dan mengambil tindakan terhadap kami karena kami mencoba untuk mengungkapkan kebenaran," kata Wa Lone dikutip dari Reuters, Senin (15/1)

 

Pengacara Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, Khin Maung Zaw mengatakan bahwa tuntutan yang diajukan berdasarkan Bagian 3.1 (c) Undang-Undang Rahasia Resmi era kolonial Inggris pada tahun 1923. Ketika itu, Myanmar masih dikenal sebagai Burma, sebuah provinsi di Inggris India.

 

Bagian tiga mencakup memasuki tempat terlarang, mengambil gambar atau menangani dokumen resmi rahasia yang digunakan atau dimaksudkan secara langsung atau tidak langsung untuk musuh.

 

Sebelumnya, Kementerian Informasi mengutip polisi yang mengatakan bahwa mereka ditangkap karena memiliki dokumen penting dan rahasia pemerintah yang berkaitan dengan Negara Bagian dan pasukan keamanan Rakhine. Keduanya memperoleh informasi secara ilegal dengan maksud untuk membagikannya kepada media asing.

 

Kedua wartawan tersebut mengajukan permohonan jaminan, namun Jaksa keberatan atas permintaan tersebut. Namun Pengadilan masih mengambil pertimbangan dan akan memutuskannya pada sidang lanjutan pada 23 Januari mendatang.

 

Presiden dan Pemimpin Redaksi Reuters, Stephen J. Adler mengaku sangat kecewa karena pihak berwenang berusaha untuk menuntut kedua wartawan tersebut. "Kami memandang ini sebagai serangan yang sepenuhnya tidak beralasan dan melawan kebebasan pers," katanya. 

 

Juru bicara pemerintah Zaw Htay menolak untuk mengomentari dakwaan tersebut. Namun mengatakan keduanya memiliki hak mereka di bawah sistem peradilan independen. "Hakim akan memutuskan apakah mereka bersalah atau tidak menurut hukum," katanya.

 


Editor : Birny Birdieni 

Birny Birdieni
15-01-2018 14:12