Main Menu

Tren Co-living diminati Milenial Asia

Fitri Kumalasari
24-01-2018 16:54

Denis Ma, Head of Research, JLL Hong Kong(Dok.youtube/re1)

Jakarta, Gatra.com - Tak hanya berbagi ruang kerja dan transportasi, generasi milenial juga mulai berbagi tempat tinggal baru bersama dengan penghuni yang memiliki kesamaan gaya hidup. Hal ini termuat dalam laporan Bridging the house gap oleh konsultan real estate JLL.

Dalam laporan disebut co-living mulai diminati di Asia, terutama Hong Kong dan Cina dimana harga rumah terjangkau menjadi masalah. Berbagi tempat tinggal sudah populer di banyak negara. Umumnya dilakoni oleh pelajar atau profesional muda. Hal yang membedakannya dengan co-living adalah pengelolaan yang terakhir dengan lebih profesional. Sebagian besar pengelola mengutamakan pelayanan dengan aspek komunitas seperti kelas yoga, pemutaran film, makanan dan minuman gratis, hingga acara networking dengan pembicara tamu dan workshop yang disesuaikan dengan masing-masing ketertarikan dan minat dari penghuninya.
 
"Bagi mereka yang belum mampu membeli rumah sendiri, kehadiran co-living menawarkan solusi yang terjangkau : alternatif untuk mereka yang masih tinggal di rumah keluarga, sewa bersama, atau rumah susun" kata Denis Ma, Head of Research, JLL Hong Kong, seperti dalam rilis yang didapat Gatra. "Selain itu, komunitas masyarakat juga tertarik dengan skema co-living yang berpotensi untuk memperbaiki kesejahteraan penghuni secara keseluruhan."
 
Di Cina, konsep co-living dimulai YOU+ International Youth Community, disusul pengelola lain yang muncul pada tahun 2012. Pada akhir tahun 2016, terdapat hampir 90 pengelola di seluruh Cina. Vanke Port Apartment adalah salah satu pengelola terbesar Cina, yang memiliki lebih dari 60.000 unit. Sementara itu, YOU+ mengoperasikan 16 properti, Mofang juga bertambah menjadi sekitar 15.000 unit, ZiRoom mengoperasikan 7 properti dan Coming Space mengelola 10.000 untuk.

"Permintaan generasi milenial untuk co-living sangat besar di Cina. Dalam lima tahun terakhir terdapat 43 juta mahasiswa yang baru lulus kuliah," menurut Joe Zhou, Head of Research, JLL Cina.

Dengan tingginya harga perumahan di Cina, dibutuhkan waktu setidaknya tiga sampai lima tahun bagi mereka untuk bisa membeli rumah sendiri, dan itu berarti mereka harus menyewa atau mencari alternatif tempat tinggal jangka pendek.

"Karena itu, co-living jelas adalah opsi yang menarik," tambahnya.

Terinspirasi oleh fenomena co-working, beberapa pengelola telah membawa pekerjaan dan gaya hidup kedalam satu tempat. Misalnya di India, saat ini terdapat empat perusahaan start-up yang memiliki fokus pada co-living di Gurgaon dan dua yang berbasis di Bengaluru.

Sementara itu di Singapura, Aurum Investments, anak perusahaan dari co-working space Collision8, telah berinvestasi di sebuah startup co-living baru bernama Hmlet. Ada juga start-up 5Lmeet yang berbasis di Beijing yang tidak hanya bergerak dalam berbagi akomodasi  –  perusahaan ini juga menawarkan penghuninya sebuah kantor terbuka, serta fasilitas lainnya seperti restoran, tempat olahraga dan ruang acara.

Didukung sulitnya memiliki rumah dan sedikitnya pasokan perumahan, pasar co-living terbukti menarik bagi para investor dan pemilik properti terutama di sektor perhotelan. Nah, menurut Zhou, Budget dan butik hotel adalah salah satu jenis properti pertama yang diubah menjadi co-living space dikarenakan ukuran unit dan tim operasi yang serupa.

"Namun, untuk mengubah properti lain menjadi co-living harus melewati proses hukum dan perencanaan yang rumit, sehingga akan membutuhkan waktu dan biaya," ungkapnya.

Selaini itu menurut Ma pertimbangan lainnya adalah daya tahan dan keusangan. Banyak rumah co-living baru yang menyediakan desain interior yang modern. Hal ini lah yang membuat para penghuni tertarik. Apakah ruang bersama ini dapat mempertahankan daya tarik mereka setelah beberapa tahun? Hal ini akan tergantung pada seberapa banyak pengelola berinvestasi dalam perawatannya.


Reporter: Fitri Kumalasari

Editor : Sandika Prihatnala

Fitri Kumalasari
24-01-2018 16:54