Main Menu

Ini Pesan Presiden ke WNI di Pakistan

Ervan
27-01-2018 08:34

Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Pakistasn (Dok. Biro Pers Setpres/AK9)

Jakarta, Gatra.com- Presiden Joko Widodo menitipkan pesan kepada masyarakat Indonesia yang tinggal di Pakistan untuk selalu menjaga nama baik bangsa dan negara Indonesia. Apalagi hubungan antara Pakistan dan Indonesia sudah terjalin dengan sangat baik.

 

Hal itu terlihat saat kedatangan Presiden Jokowi di Pakistan siang ini, yang dijemput langsung oleh Presiden Pakistan Mamnoon Hussain di Pangkalan Udara Nur Khan, Islamabad, Pakistan.

 

"Ini sebuah penghargaan dari Pakistan," ujar Presiden di hadapan masyarakat Indonesia yang berkumpul di Hotel Serena, pada Jumat (26/1).

 

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Negara juga mengungkapkan alasannya berkunjung ke lima negara yang berada di kawasan Asia Selatan, yakni Sri Lanka, India, Pakistan, Bangladesh dan Afghanistan.

 

“Kita ingin memberikan sebuah keseimbangan, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, mestinya kawasan di Timur Tengah, kawasan di sini, mendapatkan perhatian yang khusus,” ucap Presiden.

 

Selain itu, Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

 

“Ini selalu saya sampaikan merupakan sebuah kekuatan politik besar kita di dalam kancah persahabatan global dengan negara-negara yang lain,” kata Presiden.

 

Dalam pertemuan ini, Presiden menjelaskan bahwa saat ini pemerintah sedang fokus melakukan pembangunan infrastruktur yang merata di seluruh pelosok Tanah Air. Ia menjelaskan bahwa infrastruktur di Indonesia saat ini tertinggal cukup jauh sehingga menghambat kompetisi dengan negara lain.

 

"Saya kira pembangunan infrastruktur ini merupakan hal fundamental bagi negara kita dan saya tidak ingin kehilangan momentum," ucap Presiden.

 

Sejumlah pencapaian program dan pembangunan di Tanah Air pun dipaparkan Kepala Negara. Mulai dari jalan tol Trans Papua, jalan tol Trans Sumatra, pelabuhan, rel kereta api, bandara, Pos Lintas Batas Negara (PLBN), hingga penerapan kebijakan bahan bakar minyak satu harga.


Reporter: Ervan Bayu

Editor : Bernadetta Febriana

 

 

Ervan
27-01-2018 08:34