Main Menu

Korban Tewas Bom Ambulans di Kabul Hampir Mencapai 100 Orang

Iwan Sutiawan
28-01-2018 10:57

Evakuasi korban serangan bom di Kota Kabul (Wakil Kohsar/AFP/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Sebanyak 95 orang meninggal dunia dan sekitar 158 orang menderita luka-luka akibat ledakan di Ibu Kota Kabul, Afghanistan, Sabtu kemarin (27/1). Bom tersebut disembunyikan di dalam mobil ambulans dan meledak di bagian kota yang ramai dikunjungi pejalan kaki.


Reuters , Minggu (28/1), melansir Taliban mengaku bertanggung jawab atas ledakan bunuh diri tersebut. Kelompok itu minggu sebelumna juga telah menyerang Hotel Intercontinental di mana lebih dari 20 orang terbunuh.

Sementara pihak jurubicara kementerian dalam negeri terserang jaringan Haqqani, sebuah kelompok militan yang berafiliasi dengan Taliban karena telah berada di balik banyaknya serangan besar terhadap kota-kota besar di Afghanistan.

Sementara tim medis berjuang untuk membangun korban ledakan bom ambulans tersebut. Beberapa orang yang terluka dengan infus intravena dipasang di samping mereka, diletakkan di tempat terbuka. "Ini adalah pembantaian," kata Dejan Panic, koordinator di Afghanistan untuk kelompok bantuan Italia Emergency, yang merupakan rumah sakit trauma yang merawat puluhan korban luka.

Beberapa jam setelah ledakan tersebut, seorang juru bicara kementerian kesehatan mengatakan, jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 95 orang dan 158 orang terluka.

Ledakan hari Sabtu itu pekan ini penuh sesak di Afghanistan, dengan pengepungan di Hotel Intercontinental dan bantuan lainnya ke kantor anak-anak di Jalan Timur Jalalabad. Serangan itu diklaim oleh negara Islam.

Gelombang serangan telah memberi tekanan kepada Presiden Ashraf Ghani dan sekutunya di AS, yang telah menyatakan keyakinannya, yaitu strategi militer baru yang lebih agresif telah berhasil mendorong gerilyawan Taliban kembali dari pusat-pusat provinsi utama.

Amerika Serikat telah meningkatkan bantuannya ke pasukan keamanan Afghanistan. AS juga meningkatkan serangan udara terhadap Taliban dan kelompok militan lainnya untuk memecahkan kebuntuan dan kerja pemberontak ke meja perundingan.

Taliban membantah mereka sudah lemah setelah AS menerapkan strategi baru tersebutnya. Bahkan Taliban pada minggu lalu telah menunjukkan kemampuannya untuk melakukan serangan mematikan di Kabul yang sangat terlindungi.

Washington yang telah menuduh Pakistan memberikan bantuan kepada Taliban dan memiliki beberapa bantuan ke Islamabad, mohon semua negara untuk melakukan "tindakan tegas" untuk menghentikan kekerasan tersebut.

"Tidak ada toleransi bagi mereka yang mendukung atau menawarkan satuan bagi teroris," kata Sekretaris Negara Rex Tillerson dalam sebuah pernyataan.

Sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengutuk serangan tersebut dan mengatakan bahwa AS telah lolos keputusan soal ini. Sementara Pakistan yang membantah tuduhan, juga mengecam serangan itu dan menyerukan "upaya bersama dan kerja sama yang efektif di antar negara-negara untuk memberantas momok terorisme."


Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
28-01-2018 10:57