Main Menu

Islah Cina dan Vatikan dalam Pengangkatan Uskup di Beijing

Birny Birdieni
04-02-2018 11:27

Salah satu Gereja Katolik di desa Bai Gu Tun, yang terletak di pinggiran kota Tianjin, Cina. (REUTERS/David Gray/File Foto)

Beijing, Gatra.com- Dalam beberapa bulan ke depan, Cina dan Vatikan dipastikan akan mencapai kesepakatan bersejarah dalam pengangkatan uskup. Hubungan antara keduanya telah lama tegang karena perselisihan dalam penunjukkan Uskup di negara tersebut.

 

Negara Komunis tersebut pertama kali memutuskan hubungan diplomatik dengan "Tahta Suci" sejak 1951 lalu. Di masa kepemimpinan aturan Mao Zedong, warga katolik harus secara sembunyi-sembunyi dalam menjalankan ibadahnya. Barulah tahun 1980-an muncul kembali ketika praktik keagamaan ditoleransi kembali. 

 

Kini penganut Katolik di Cina menghadapi pilihan untuk memiih tempat beribadah di gereja yang disetujui negara atau gereja bawah tanah yang diakui otoritas Vatikan. Sedangkan gereja negara Cina menolak menerima otoritas Paus.

 

Saat ini ada sekitar 100 uskup Katolik di Cina. Dimana beberapanya disetujui oleh Beijing dan ada juga oleh Vatikan. Namun secara informal, sekarang banyak yang telah disetujui oleh keduanya.

 

Tahun lalu, Paus Fransiskus membuat pemikirannya kalau dia ingin berkunjung ke Cina. "Segera setelah mereka mengirimi saya undangan," ujarnya seperti dikutip dari BBC, Minggu (4/2). Paus juga berharap kemungkinan memiliki hubungan baik dengan Cina.

 

Laporan media pemerintah menyebutkan bahwa untuk membahas masalah pengangkatan para Uskup tersebut, pihak Pejabat Cina dan Vatikan setidaknya telah bertemu empat kali sejak 2016 lalu. Lalu apa kesepakatannya?

 

Sumber Vatikan mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa berdasarkan kesepakatan tersebut, Vatikan akan diberi sebuah keputusan dalam penunjukan para uskup masa depan di Cina. Bagi Beijing, kesepakatan dengan Vatikan dapat memberi mereka kendali lebih besar atas gereja bawah tanah negara tersebut.

 

Secara global, kesepakatan ini juga akan meningkatkan prestise Cina dengan meningkatkan "super power" dia di dunia karena terlibat dengan salah satu agama besar dunia. Secara simbolis, ini akan menjadi pertanda pertama membaurnya antara Cina dan gereja Katolik sejak lebih dari setengah abad lalu.

 

Vatikan adalah satu-satunya negara Eropa yang memelihara hubungan diplomatik formal dengan Taiwan. Saat ini belum jelas apakah kesepakatan antara Cina dan Vatikan akan mempengaruhi hal ini dengan cara apapun.

 

Lalu apa artinya ini bagi orang Katolik di negara ini? Saat ini ada sekitar 10 juta umat Katolik Roma di Cina. Memang belum jelas bagaimana kesepakatan itu akan mempengaruhi masyarakat, namun ada beberapa yang menangapi dengan skeptis.

 

Kardinal Joseph Zen dari Hong Kong mengkritik Vatikan atas usahanya melakukan diplomasi dengan Cina. Ia menuduh Gereja memaksa para uskup untuk pensiun dan menggantikan dengan yang dipilih oleh Beijing.

 

"Apa menurut saya Vatikan menjual Gereja Katolik di Cina?" demikian Kardinal Joseph menulis di aku Facebooknya. "Iya tentu saja," katanya menegaskan

 

Namun respon positif disampaikan Pastor Jeroom Heyndrickx, seorang imam Belgia yang telah menghabiskan 60 tahun membantu umat Katolik Cina. Dia yakin Cina siap untuk berdialog. 

 

Menurutnya, Selama 2.000 tahun di Cina kaisar merupakan kaisar dan paus secara bersamaan. "Tapi Cina telah berubah dan Gereja telah berubah. Ini merupakan kesempatan baru bagi dialog ini untuk berhasil," ungkap Pastor Jeroom.

 


Editor : Birny Birdieni

Birny Birdieni
04-02-2018 11:27