Main Menu

Perselisihan Seabad Laut Cina Selatan Mulai Ada Titik Temu

Birny Birdieni
07-02-2018 18:35

Menteri Pertahanan Singapura, Ng Eng Hen(REUTERS/Tim Chong/er1)

Singapura, Gatra.com- The Association of South East Asian Nations (ASEAN) berharap untuk mempercepat kesimpulan kerangka perundingan mengenai kode etik Laut Cina Selatan dengan Cina. Namun keinginan untuk menyelesaikannya dalam setahun dinilai Menteri Pertahanan Singapura, Ng Eng Hen tidak realistis.

 

"Ini adalah perselisihan seabad. Mengharapkan dalam satu tahun tidak realistis, "katan Eng seperti dilansir dari Reuters, Rabu (7/2). Namun kedua belah pihak, baik ASEAN dan Cina telah memuji bahwa kesimpulan kerangka perundingan itu sebagai tanda kemajuan.

 

Cina dan 10 negara anggota ASEAN mengadopsi sebuah kerangka negosiasi mengenai kode kerangka sengketa jalur perairan sibuk yang sebagian besar dikuasai Cina namun juga diakui oleh beberapa negara ASEAN. "Kami berharap ini akan dipercepat, tapi ini adalah masalah yang sangat kompleks," kata Eng kepada wartawan setelah pertemuan Menteri Pertahanan se-ASEAN.

  

Penandatangan kesepakatan dengan Cina merupakan tujuan dinanti anggota ASEAN. Terutama bagi mereka yang bertengkar bertahun-tahun karena melihat pengabaian Cina akan hak berdaulatan dan melarang para nelayan serta eksplorasi energi. Namun kegagalan memaparkan outline sebagai objek kebutuhan untuk membuat kode mengikat secara hukum telah memunculkan keraguan akan keefektifan fakta tersebut.

 

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Geng Shuang mengatakan kalau Beijing telah bekerja sama dengan negara-negara ASEAN untuk mendapatkan kode etik yang memuaskan seluruh negara bagian di wilayah ini. Meski demikian, "Negeri Panda" itu masih tetap menerapkan militernya di Laut Cina Selatan.

 

Bahkan baru-baru ini, Angkatan Udara Cina mengatakan kalau jet tempur Su-35 Cina telah mengambil bagian dalam patroli tempur di Laut Cina Selatan. Ia tidak mengatakan kapan patroli itu terjadi serta lokasinya di bagian Laut Cina Selatan.

 

Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan mengatakan kalau beberapa rekan ASEAN-nya telah menyatakan keprihatinan akan kegiatan Cina di wilayah Laut Cina Selatan, termasuk reklamasi lahan.

 

Kondisinya, Malaysia, Brunei, Vietnam dan Filipina mengklaim sebagian atau seluruh Laut Cina Selatan dan segudang kawanan, terumbu karang serta pulau-pulaunya. Demikian juga Taiwan turut mengklaimnya.

 


Editor : Birny Birdieni

Birny Birdieni
07-02-2018 18:35