Main Menu

Wapres JK: Paradigma Perdamaian Harus Diubah

Anthony Djafar
21-02-2018 16:54

Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla saat menyampaikan kuliah umum usai menerima gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Hiroshima, Jepang, Rabu (21/2). (Dok. Biro Pers Setwapres/FT02)

Hiroshima, Gatra.com - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengingatkan bahwa paradigma perdamaian harus diubah mengingat kompleks dan dinamisnya kehidupan dan kemajuan teknologi persenjataan saat ini.



”Kita tidak akan mendefinisikan perdamaian hari ini sebagai tidak adanya kekerasan. Perdamaian harus dipercaya sebagai kondisi di mana keadilan ditegakkan, persamaan dijamin, HAM, demokrasi dan lingkungan terpelihara,” kata Wapres saat penyampaian kuliah umum usai menerima gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Hiroshima, Jepang, Rabu (21/2).

Dalam pidatonya bertema “Ketidaksesuaian Antara Konflik dengan Peradaban”, Wapres menceritakan tentang peristiwa tanggal 6 Agustus 1945, ketika bom atom meluluhlantakkan kota Hisroshima yang indah dan berperadaban.

“Seluruh umat manusia sangat terkejut. Penduduk Hiroshima tidak diberikan kesempatan untuk mempersiapkan diri atau melarikan diri dari kematian,” katanya.

Dihadapan Presiden Universitas Hiroshima, para Dekan, anggota Fakultas, dan Staf Pengajar, Wapres menyebut bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, “bom” itulah senjata mematikan yang dapat memusnahkan umat manusia dan peradaban.

“Kita semua mengutuk dan tidak pernah menyetujui hal tersebut. Tidak mungkin untuk melupakannya. Saya telah mengalami berbagai peristiwa bersejarah dalam hidup saya, tragedi Hiroshima dan Nagasaki adalah yang paling mengerikan,” katanya.

Menurut Wapres tragedi itu tentunya bagi sebagian besar orang menjadi mimpi buruk. “Saya sependapat dengan prinsip yang dianut oleh teman-teman Jepang: perang sudah cukup. Tidak ada lagi perang,” katanya.
 
Dikatakannya juga bahwa sejarah menunjukkan bahwa umat manusia telah memiliki pengalaman panjang dalam konflik dan kekerasan, dari waktu ke waktu, generasi ke generasi.

“Kita memiliki konflik antar negara, di dalam negara, seperti perang saudara, antar komunitas dan lainnya,” katanya.

Nah saat ini, tantangan terbesar adalah aktor non-negara dengan ideologi tunggal: utopia yang mengarah kepada intoleransi. Para pelakunya datang dari seluruh dunia, mendeklarasikan dan menyatakan perang terhadap negara, terhadap rakyat biasa dan tidak berdosa, serta terhadap siapapun yang tidak menjadi bagian dari kelompok mereka.

“Mereka membentuk dan menyebut dirinya sebagai kekuatan global, namun sesungguhnya merupakan monster dan ketakutan global. Untuk alasan itulah kita mengambil jalan berbeda dari yang mereka ambil, karena mereka menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan. Tentunya kita menolak hal ini karena mereka menolak keberagaman manusia,” katanya.

Wapres menyebut bahwa keberagaman merupakan hakekat dari manusia. Apapun kepercayaan yang dianut, semua percaya bahwa Tuhan menginginkan keberagaman. Peradaban manusia dibangun melalui keberagaman. Kehidupan manusia dan masyarakat mirip dengan pelangi: semakin berwarna akan semakin indah.

“Kita juga memiliki kecenderungan bahwa konflik dipicu oleh permasalahan etnis dan ras. Belum lama ini, konflik antara etnis Tutsi dan Hutu di Afrika, mengorbankan jutaan nyawa manusia. Konflik yang sangat brutal dan penuh darah.” katanya.

Menurut Wapres, etnis dan ras sebagai sumber konflik, adalah salah satu konflik yang paling berbahaya dan sulit diselesaikan. Alasannya adalah, etnis dan ras telah ditetapkan, jadi hal tersebut permanen, tidak dapat diubah.

“Begitu seseorang termasuk dalam etnis dan ras tertentu, dia tidak dapat mengubahnya. Seseorang dapat mengubah agama dengan berpindah ke agama lain, tapi dia tidak dapat mengubah etnis atau rasnya. Dengan logika ini, konflik berdasarkan enis dan ras, juga dapat dianggap permanen," katanya.

Wapres mengakui bahwa setiap bentuk konflik selalu memecah masyarakat antara “kami” dan “mereka”. Selalu ada garis pembatas yang tidak dapat didamaikan, sehingga tidak tercapai keharmonisan dalam hidup.

“Masyarakat saling tidak mempercayai. Rakyat akan selalu gelisah. Rakyat akan berkomunikasi dalam diam, karena rakyat tidak dapat mempercayai siapapun. Masyarakat tinggal dalam suasana saling mencurigai,” katanya.

Nah, akibat konflik itu, selalu saja wanita dan anak-anak menjadi korban. Mereka menjadi pihak yang paling rentan dalam konflik. Tidak ada harapan bagi masa depan anak-anak.

“Kita memiliki pepatah: “Dalam perdamaian, anak laki dan perempuan mengubur ayah mereka karena sebab alamiah. Dalam konflik, ayah mengubur anak laki dan perempuannya karena ulah manusia," katanya.


Editor: Anthony Djafar

Anthony Djafar
21-02-2018 16:54