Main Menu

Rencana Xi Jinping Menjabat Tanpa Batas Waktu Direspon Negatif Medsos

Birny Birdieni
26-02-2018 17:30

Orang-orang berjalan didepan poster bergambar Presiden China Xi Jinping di Beijing, China. (REUTERS/Thomas Peter/FT02)

Artikel Terkait

Beijing, Gatra.com- Rencana Cina untuk membuat Presiden Xi Jinping menjabat tanpa batas waktu telah memicu reaksi perlawan dari media sosial. Seorang aktivis pro-demokrasi Hongkong bahwa membandingkannya dengan dinasti penguasa Korea Utara serta dituduh telah menciptakan seorang diktator.

Dilansir dari Reuters, reaksi media sosial sejak Minggu (25/2) secara cepat membuat Cina berayun menjadi propaganda yang dilakukan Senin (26/2). Yakni memblokir beberapa artikel namun menerbitkan potongan tulisan yang memuji Partai Komunis Cina (PKC).

Partai berkuasa itu mengusulkan menghapus klausul konstitusional yang membatasi layanan kepresidenan hanya dua periode saja. Dengan demikian Xi, yang juga memimpin partai dan militer, mungkin tidak akan pernah harus pensiun.

Usulan tersebut akan disahkan oleh delegasi setia akan PKC pada pertemuan tahunan parlemen bulan depan. Parlemen cap karet Cina ini merupakan bagian dari amandemen konstitusi negara tersebut.

Ini juga akan menambah pemikiran politik Xi pada konstitusi. Dimana telah ditambahkan ke dalam konstitusi partai tahun lalu. Juga sudah ditetapkan sebagai kerangka hukum superbodi anti-korupsi, dimana akan memperkuat kekuatan partai dengan ketat.

Tapi nampaknya partai tersebut harus berusaha memotong beberapa usaha untuk meyakinkan beberapa orang di Cina. Dimana sesungguhnya Xi sangat populer akan komitmennya melawan korupsi. Langkah tersebut tidak akan memberi banyak kekuatan kepada Xi.

"Argh, kita akan menjadi Korea Utara," tulis seorang pengguna Weibo, di mana dinasti Kim telah memerintah sejak akhir 1940an. Kim Il Sung mendirikan Korea Utara pada tahun 1948 dan keluarganya telah memerintah sejak itu.

Komentar tersebut dihapus pada Minggu, setelah Weibo mulai memblokir istilah pencarian "batas dua periode". Beberapa lelucon meme pun muncul. Salah satunya adalah gambar kondom dengan bungkusnya bertuliskan kata-kata, "melakukan dua kali tidak cukup". Lainnya, membagikan gambar foto "Winnie The Poh" dimana memutar kemiripan Ci dengan doneka kartun tersebut.

Senin ini, pasar saham mengambil respon akan pemberitaan tersebut. Spekulan Cina menerkam saham bernama "kaisar". Bahkan keputusan tersebut juga meresahkan beberapa orang wilayah Cina di Hong Kong. Pihak berwenang pun telah berusaha mengendalikan gerakan pro-demokrasi.

"Langkah ini memungkinkan seseorang mengumpulkan kekuatan politik, dimana berarti Cina akan kembali memiliki seorang diktator sebagai kepala negara - Xi Jinping," kata Joshua Wong, salah satu pemimpin gerakan tersebut.

Menurut Joshua, bentuk UU itu mungkin ada di Cina. Tapi ini membuktikan bahwa hukum Cina ada hanya untuk melayani individu dan tujuan partai. "Negeri Panda" itu kemungkinan alam melihat kritik itu sebagai rencana melawan partai.


 

Editor : Birny Birdieni

Birny Birdieni
26-02-2018 17:30