Main Menu

Wapres JK Tegaskan Komitmen Indonesia untuk Perdamaian di Afghanistan

Anthony Djafar
28-02-2018 14:19

Wakil Presiden Jusuf Kalla Menghadiri pembukaan Kabul Process Conference di Istana Char Chinar, Afganistan. (Dok. Setwapres/FT02)

Kabul, Gatra.com - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk berkontribusi dalam proses perdamaian di Afghanistan.


“Pertemuan ini sangat penting dalam proses perdamaian di Afghanistan, karena konflik berkepanjangan selama 40 sangat membuat siapapun menderita,” kata Wapres berbicara dalam pembukaan Kabul Process Conference di Istana Char Chinar, di Kabul, Afghanistan Rabu (28/2).

Wapres JK mengatakan konflik melahirkan banyak persoalan dan menimbulkan penderitaan.

“Merobek persatuan masyarakat dan menghambat pembangunan sosial dan ekonomi. Konflik tidak pernah menguntungkan bagi siapapun,” katanya.

Wapres JK yang berbicara dihadapan para pejabat Afghanistan menceritakan bagaimana cara Indonesia memupuk persatuan dengan beragam etnis dan suku yang ada.

“Sebagai negara dengan lebih dari 700 kelompok etnis dan 340 bahasa daerah, Indonesia telah mengalami banyak tantangan dan konflik sebagai bangsa yang pluralistik. Alhamdulillah, kami mampu mengatasi tantangan dan konflik dan kami merasa terhormat untuk berbagi pengalaman ini,” katanya.

Wapres menyebut bahwa perdamaian harus dipupuk, memperkuat ikatan kepercayaan antara orang-orang di semua tingkatan dan membangun komitmen yang kuat serta solid dari semua elemen masyarakat. Semua itu untuk menegakkan prinsip saling menghormati, saling pengertian dan tetap membangun dialog.

“Inklusivitas dalam membangun perdamaian sangat penting. Setiap orang di Afghanistan adalah elemen kunci dan harus menjadi bagian dari solusi. Suara setiap orang Afghanistan harus didengar. Tidak ada yang harus ditinggalkan, semua suara terdengar. Karena Inklusivitas menyuntikkan rasa memiliki dan berbagi tanggung jawab terhadap perdamaian dan pembangunan perdamaian,” kata JK.

Wapres juga mengingatkan pentingnya membangun dan meningkatkan saling percaya di tengah masyarakat, meningkatkan saling pengertian antar sesama. Karena itu merupakan dasar perdamaian yang dapat bertahan lama.

Sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia, kata Wapres, Indonesia sangat memahami peran penting dari para ulama dalam memelihara perdamaian dan rekonsiliasi  terutama melalui promosi nilai dan prinsip toleransi.

“Islam sebagai Rahmatan lil ‘alamin, atau Islam sebagai berkah bagi alam semesta,” katanya.

Untuk itu, Indonesia, tanpa ragu menyambut dan menerima permintaan Afghanistan menjadi tuan rumah Konferensi Ulama Internasional.

“Indonesia percaya bahwa Konferensi Ulama ini akan berkontribusi untuk mengakhiri konflik,” katanya.

Juru Bicara Wapres JK, Husain Abdullah mengatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla selain berbicara dalam pembukaan Kabul Process Conference itu juga, menyempatkan diri menerima kunjungan kehormatan  Yamamoto special representative for the united nation asssistance mission in Afghanistan (UNAMA) di Istana Haram Sarai (Wisma Negara).

Wapres juga dijadwalkan mengunjungi Indonesia Islamic Center (IIC). Disana, Wapres selain melakukan Grounbreaking Klinik IIC dan melakukan sholat sunah, juga akan berdialog dengan Majelis Ulama Afghanistan dan komunitas warga negara Indonesia yang tinggal di Afghanistan.

Kemudian, selesai rangkain acara di IIC, Wapres menempatkan singgah ke KBRI Kabul. Lalu kembali ke Istana Sarai untuk persiapan jamuan santap malam dengan Presiden Ashraf Ghani.



Editor: Anthony Djafar

Anthony Djafar
28-02-2018 14:19