Main Menu

Begini Sastra Diplomasi Indonesia-Malaysia

Ervan
26-04-2018 10:07

Sastra Diplomasi Indonesia-Malaysia. (Istimewa/FT02)

Jakarta, Gatra.com- Sepuluh penyair Indonesia dan Malaysia melakukan workshop di Sabah Malaysia, 21-24 April 2018. Mereka mengekspresikan dinamika turun naiknya persahabatan dan konflik dua negara dalam puisi esai.


 

Ajang tersebut jelas sebagai perkembangan baru yang segar dalam hubungan dua negara serumpun seperti Indonesia dan Malaysia. Civil society dua negara itu kembali merekat hubungan batin dua negara melalui para penyair masing masing negara.

 

Puisi esai yang digagas Denny JA dari Indonesia sudah berkembang menjadi sastra diplomasi. "Ini adalah pencapaian sastra tertinggi. Sastra tak hanya menjadi ekspresi perasaan sang penyair, tapi juga berfungsi menjadi sendi masyarakat Indonesia dan Malaysia," ujar Dr. Rem Dambul, ilmuwan, yang juga kritikus sastra serta penyair Malaysia ini dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/4).

 

Menurut Rem Dambul, hubungan dua negara tak hanya dilihat dalam wilayah politik dan ekonomi. Wilayah para politisi dan pengusaha. Hubungan dua negara juga menjadi wilayah budaya. Puisi esai bisa memberikan fungsi diplomasi.

 

Dalam program itu, turut serta penyair Indonesia seperti Dhenok Kristianti, De Kemalawati, dan Fanny Jonathan Poyk. Juga Isbedy Stiawan ZS dan Hari Mulyadi.

Sedangkan dari penyair Malaysia hadir Datuk Jasni Matlani, Siti Rahmah Ibrahim, dan Hasyuda Abadi. Juga Abdul Karim Gullam dan Jasni Yakub.

 

Program ini dipimpin oleh Fatin Hamama dan Datuk Jasni Matlani. Terlibat pula Ahmad Gaus, penulis yang banyak mengerti puisi esai yang memberikan panduan.

 

Sementara itu, Denny JA, selaku penggagas puisi esai mengaku tak menyangka akhirnya puisi esai melanglang buana. Setelah penyair Malaysia, penyair Thailand, Brunei dan Singapura bersiap pula menuliskan kisah batin dengan setting isu soal di negara masing masing.

 

Denny pun menyambut baik pandangan Dr Rem Dambul yang melihat puisi esai kini sudah berkembang menjadi sastra diplomasi. "Banyak kisah hubungan negara yang dituliskan dalam puisi esai itu," ujarnya.

 

Ada kisah tenaga kerja Indonesia yang bermasalah di Malaysia. Ada kisah soal klaim budaya Indonesia yang diakui milik Malaysia. "Ada pula refleksi hubungan Indonesia Malaysia sejak konfrontasi era Soekarno," pungkas Denny.


Reporter: Ervan Bayu

Editor: Birny Birdieni

 

Ervan
26-04-2018 10:07