Main Menu

Pidato Wapres JK: Perlu Keterbukaan Wujudkan Stabilitas dan Kesejahteraan

Anthony Djafar
12-06-2018 22:10

Wapres Jusuf Kalla berpidato dalam Konferensi Internasional ke-24 di Tokyo, Jepang. (Dok/Setwapres/re1)

Tokyo, Gatra.com - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengatakan bahwa keterbukaan berperan penting dalam mendukung kerja sama antarnegara untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas.


Stabilitas politik merupakan prasyarat bagi terwujudnya pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan, sedangkan kesejahteraan akan menjamin adanya stabilitas nasional maupun internasional.

“Keterbukaan ini sekarang mendapat tantangan dari beberapa pandangan baru yang dibangun atas dasar pertimbangan internal suatu negara dan nilai-nilai yang dianut oleh negara itu sendiri. Proteksionisme dan unilateralisme semakin berkembang,” kata Wapres saat menyampaikan pandangannya pada Konferensi Internasional ke-24 tentang Masa Depan Asia di Hotel Imperial, Tokyo, Jepang, Selasa (12/6) waktu setempat.

Pidato dengan tajuk “Keeping Asia Open: How to Achieve Prosperity and Stability” menggambarkan bagaimana contoh yang cukup jelas dari fenomena ini. Amerika Serikat (AS) misalnya yang meninggalkan TPP Agreement (Kemitraan Trans-Pasifik) dan keluar dari Paris Accord (Kesepakatan Paris) kemudian melakukan perang dagang dengan beberapa negara.

“Tindakan seperti ini, akan mencederai upaya membangun konsensus dan komitmen global yang telah dibangun puluhan tahun,” kata Wapres.

Namun begitu, lanjutnya, AS pada masa pemerintahan sekarang secara paradoks melakukan pendekatan unilateral dalam menanggapi perkembangan yang berlangsung di Timur Tengah dan Semenanjung Korea.

“Keputusan AS memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem membuat perdamaian di Palestina semakin sulit terwujud dan meningkatkan ketegangan di seluruh dunia,” katanya.

Menurutnya, nilai-nilai yang dianut bersama di masa lalu, seperti demokrasi, keterbukaan ekonomi, dan pengentasan kemiskinan, semakin pudar. Akibatnya, dunia semakin terkutub-kutub baik secara ekonomi maupun politik.

Kini, semakin banyak masalah yang timbul, mulai dari krisis Iran dan Yerusalem yang memicu aktivisme jaringan teroris dunia hingga retaliasi negara-negara ekonomi maju akibat kebijakan ekonomi AS yang proteksionis.

“Masalah-masalah baru muncul sebelum masalah-masalah lama terselesaikan. Dunia pun menjadi semakin rapuh,” katanya.

Untuk itu, Wapres menyerukan agar semua negara untuk bekerja sama menangani masalah yang sama-sama mereka hadapi.

“Masalah yang kita hadapi tidak dapat diselesaikan oleh satu negara sendirian. Kerja sama internasional menjadi keharusan untuk menangani masalah itu,” katanya.

Namun, Wapres mengingatkan, hanya negara-negara yang stabil secara internal yang dapat berperan serta secara efektif dalam kerja sama tersebut. Ia pun kemudian menunjukkan kesiapan Indonesia dengan memaparkan data tentang proses demokratisasi dan pertumbuhan ekonominya yang relatif stabil.

Wapres menggarisbawahi pentingnya pertumbuhan ekonomi yang inklusif untuk mewujudkan kesejahteraan bersama di seluruh dunia.

“Untuk mewujudkan visi ini, kita harus mendukung terciptanya stabilitas politik dan ekonomi dunia,” tegasnya.

Stabilitas politik, dapat tercipta dengan menolak paham unilateral dari negara manapun, selain secara bersama-sama menangani masalah terorisme dan kemiskinan.

“Sementara itu, stabilitas ekonomi dapat dicapai dengan tetap menaati perjanjian perdagangan yang telah disepakati bersama, termasuk perjanjian perdagangan bebas,” katanya.

Wapres mengingatkan agar perdagangan bebas harus berdasarkan prinsip perdagangan yang adil (fair trade).

“Kita harus menghindari kebijakan “beggar-thy-neighbor” yaitu suatu negara mengambil keuntungan dari sebuah kebijakan perdagangan tertentu sementara negara lain dirugikan karena itu,” ujarnya.

Wapres memompakan semangat bahwa meskipun dunia sedang dilanda krisis di berbagai bidang, terdapat banyak peluang perbaikan di balik krisis tersebut.

“Yang terpenting adalah kita tetap memiliki keinginan untuk bekerja sama dan menemukan solusi atas berbagai krisis yang kita hadapi. Kita juga harus terus menumbuhkan nilai-nilai bersama untuk mendukung terciptanya stabilitas dan kesejahteraan bersama,” katanya.

Pada forum yang dihadiri oleh para pemimpin, pembuat kebijakan, serta para ahli dan pelaku usaha di Asia itu, Wapres JK yang hadir berpidato pada forum tahunan itu tercatat yang kedelapan kalinya.

Editor: Anthony Djafar

Anthony Djafar
12-06-2018 22:10