Main Menu

Perkuat Sistem Pertahanan Rudal, Jepang Datangkan Aegis Buatan AS

G.A Guritno
30-06-2018 09:37

Radar Aegis Ashore. (REUTERS/FT02)

Tokyo, Gatra.com - Jepang minggu depan akan menentukan pilihan untuk radar canggih buatan Amerika Serikat (AS). Radar Aegis Ashore ini merupakan bagian dari sistem pertahanan anti-rudal bernilai miliaran dolar AS.

 

Harganya yang selangit, akan dapat membantu mengurangi gesekan perdagangan dengan Washington dan sekaligus memberikan perlindungan maksimal terhadap ancaman rudal dari Korea Utara dan Cina.

Harga setiap unitnya mencapai 100 milyar yen atau lebih dari Rp 12 triliun. ‘’Aegis akan menjadi pembelian tiket besar; itu akan menjadi hadiah yang bagus untuk Presiden Trump," kata seorang pejabat pemerintah Jepang, seperti dikutip Reuters, Jumat lalu (29/5).

Mengacu pada sistem Aegis Ashore yang berbasis di darat, pada hari Senin depan, pejabat Jepang dapat membuat pilihan radar mereka sediri untuk penempatan pada tahun 2023.

Tiga sumber yang mengetahu rencana itu dan menolak menyebutkan identitasnya karena tidak memiliki wewenang berbicara kepada media mengungkapkan bahwa dengan mekanisme tersebut, berarti pembelian itu dapat ditambahkan ke proposal anggaran pertahanan yang dijadwalkan akan dirilis pada bulan Agustus.

‘’Dua radar yang menjadi kandidat untuk dipilih adalah SPY-6 buatan Raytheon Co dan versi Long Range Discrimination Radar (LRDR) buatan Lockheed Martin Corp,’’ kata sumber tersebut, seperti dikutip Reuters. Pada tahun lalu, Jepang telah mengincar SPY-6, ketika muncul persetujuan dari dalam negeri untuk membeli Aegis Ashore, tetapi Washington enggan untuk memasoknya.

Proposal anggaran Jepang datang di tengah berkurangnya ketegangan di kawasan semenanjung Korea, setelah pertemuan antara Presiden Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, pada 12 Juni di Singapura.

Saat ini, perencana militer Jepang masih tetap melihat Korea Utara sebagai bahaya langsung. Selain itu, mereka juga melihat kekuatan militer China yang semakin besar sebagai ancaman jangka panjang yang lebih besar.

Divisi Roket Tentara Pembebasan Rakyat Cina mengendalikan ratusan rudal balistik yang bisa mencapai Jepang. Peningkatan kemampuan sistem pertahanan anti-rudal Jepang tersebut akan membuatnya menjadi salah satu yang paling canggih di dunia.

Para pejabat pertahanan Jepang memperkirakan biaya dua Aegis Ashore sekitar US$ 2 miliar. Menurut sumber tersebut, penghitungan akhir mengenai harga rudal, termasuk pilihan kepada SPY-6 atau LRDR, bisa setidaknya naik hingga dua kali lipatnya. Namun harga tersebut sebanding dengan kemampuan mendeteksi target beberapa kali lebih jauh daripada sistem Aegis yang dioperasikan oleh Jepang atau AS saat ini.

Meskipun peningkatan persenjataan itu menambah biaya, hal tersebut sesuai dengan keinginan Trump untuk mengekspor lebih banyak perangkat militer Amerika. Dalam kunjungan ke Tokyo pada bulan November 2017 lalu, ia menyambut baik pengadaan pesawat tempur siluman F-35 untuk Jepang dan mendesak Jepang untuk membeli lebih banyak senjata dan barang-barang AS.

Pada pertemuan itu, Trump juga meningkatkan tekanan ke Tokyo mengenai tarif pada baja, ancaman pungutan atas impor mobil dan meminta kesepakatan perdagangan bilateral antara kedua negara ditinjau ulang.

Pada konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada bulan Juni, Trump mengatakan Abe telah berjanji untuk membeli "miliaran dolar produk tambahan dari berbagai jenis."

Menurut seorang pejabat pemerintah Jepang, Abe mungkin bertemu Trump lagi pada kesempatan pertemuan Majelis Umum PBB di New York pada bulan September nanti. Namun, dia menolak mengatakan mengenai isu pembicaraan kedua pemimpin itu.

Pilihan Jepang ke Aegis buatan Raytheon atau Lockheed masih misteri. Selama ini ada kerjasama antara Raytheon dan Mitsubishi Heavy Industries dalam mengembangkan misil-misil SM-3 Blok IIA milik Aegis Ashore.

Radar SPY-6 dirancang untuk armada kapal perang Angkatan Laut AS yang dilengkapi dengan Aegis. Sementara, LRDR akan diintegrasikan ke dalam sistem rudal pertahanan anti-balistik Angkatan Darat AS di Alaska pada tahun 2020.

Kedua radar mutakhir akan memungkinkan Jepang untuk menggunakan secara penuh pencegat jarak-jauh yang lebih baru dan dapat digunakan untuk membela terhadap ancaman masa depan yang mungkin ditimbulkan oleh rudal-rudal Cina.

Proposal pengadaan militer Jepang untuk tahun ini dimulai pada 1 April lalu, datang beriringan dengan janji pemimpin Korea Utara, Kim di Singapura untuk bekerja sama menuju denuklirisasi di semenanjung Korea. Setelah itu, Trump kembali memerintahkan menghentikan latihan militer berskala besar dengan Korea Selatan.

Jepang, saat ini menampung sekitar 50.000 personel, terdiri dari Marinir dan prajurit armada Angkatan Laut, yang termasuk konsentrasi terbesar militer AS yang ditemparkan di luar negeri. Tokyo mengatakan tidak akan mengubah postur militernya sampai melihat tanda-tanda konkret bahwa Pyongyang siap untuk secara permanen membongkar senjata nuklirnya. dan program rudal balistik.

Aegis Ashore merupakan komponen radar berbasis darat. Lokasi pertama yang dinyatakan sebagai tempat beroperasi adalah di Deveselu Rumania pada tahun 2016 dan yang kedua di Polandia pada 2018. Radar ini terdiri dari peralatan yang biasa digunakan oleh Angkatan Laut yang dikerahkan di fasilitas berbasis darat.

Pada tahun 2020, keduanya akan mendapatkan versi terbaru dari perangkat lunak Aegis BMD (Ballistic Missile Defense) dan versi terbaru dari SM-3. Negara lain yang akan mendapat penempatan beberapa fasilitas radar Aegis pada masa mendatang adalah Turki.

Pada 19 Desember 2017, Kabinet Jepang menyetujui rencana untuk membeli dua sistem Aegis Ashore untuk meningkatkan kemampuan pertahanan diri Jepang melawan Korea Utara, dengan menggunakan rudal SM-3 Blok IIA. Sistem radar Aegis Ashore juga dapat bekerja dengan pencegat SM-6 yang mampu menembak jatuh rudal jelajah. Lokasi instalasi yang diusulkan berada di area pelatihan Angkatan Bela Diri Jepang di distrik Araya, prefektur Akita dan area pelatihan Mutsumi di Hagi, prefektur Yamaguchi.

Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
30-06-2018 09:37