Main Menu

Rusia Bombardir Markas ISIS di Suriah

Nur Hidayat
02-10-2015 14:10

Foto satelit Rusia membombardir kawasan markas ISIS di Suriah (GATRAnews/dok)

Moskow, GATRAnews - Pesawat tempur militer Rusia untuk pertama kalinya melancarkan serangan udara terhadap markas ISIS di Suriah, (30/9) . Kantor berita Rusia melaporkan setidaknya 20 titik bandara militer di pos-pos komando ISIS yang terletak di pegunungan telah dihancurkan. "Serangan juga dilakukan terhadap gudang senjata dan pos komando lainnya," kata Mayjen Igor Konashenko, wakil resmi Kementerian Pertahanan Federasi Rusia kepada GATRAnews, Kami (1/10). 

Serangan pertama aviasi Rusia itu dilaksankan atas permintaan Presiden Suriah Bashar Asad yang memerangi kaum teroris dari apa yang disebut ancaman "Negara Islam".

Kepala administrasi Kremlin, Sergey Ivanov, menyatakan aksi milter ini dilaksanakan setelah Presiden Rusia, Valdimir Putin menyampaikan kepada parlemen Rusia usulan mengenai penggunaan kontingen Angkatan Bersenjata Rusia diluar perbatasan teritori Federasi Rusia. Permintaan itu segera disetujui oleh semua anggotanya.

Dalam wawancara eksklusif GATRAnews dengan ahli militer dari IMEMO (Institut ekonomi dan hubungan internasional) Vladimir Yevseyev, pidato Presiden Putin di PBB dan pertemuannya dengan Presiden Amerika Seriikat, Barrack Obama beberapa waktu lalu, telah membuktikan haluan politik luar neri Rusia, antara lain dalam menyelesaikan krisis di Suriah, dimana Rusia mulai memimpin dalam melawan ISIS.

"Pada akhir September lalu, Amerika Serikat telah melakukan serangan setidaknya 43 kali di kawasan teritori ISIS di Suriah. Tetapi dimana hasilnya? Tidak ada orang yang tahu apakah hasil itu benar-benar ampuh," kata PUtin dalam pertemuannya dengan wartawan di New York belum lama ini.

Yevseyev menjelaskan saat beraksi, Rusia mengirimkan pesawat tercanggihnya untuk memberantas ISIS. "Pesawat itu dapat melaksanakan tugas militer di waktu malam. Yakni jenis pesawat pembom SU-24 generasi 4+ yang bisa terbang siang malam, pesawat pejuang-pembom terbaru SU-34, multifungsional yang menurut para ahli asing melampaui Boeing F-15,  serta pesawat pejuang multiguna SU-30," katanya.

Selain itu, Yevseyev menambahkan, dalam pengeboman digunakan misil yang paling canggih diantaranya misil dengan kepalanya “smart”  dengn kemampuan melacak sasaran secara mandiri, Yevseyev mengatakan reaksi internasional atas serangan itu sejauh ini cukup positif dan mendapat dukungan. "Mengingat aksinya Barat sendiri melawan ISIS tidak effektif," kata Yevseyev.

Suatu faktor baru yang terutama penting, kata Vladimir Yevseyev, ialah bahwa sekarang ini pimpinan militer Rusia dan Amerika Serikat mulai koordinasi aksi militer untuk melawan ISIS.


Reporter: Svet Zakharov (Moskow)

Editor: Nur Hidayat

Nur Hidayat
02-10-2015 14:10