Main Menu

PPI Belanda Gelar Konferensi Internasional ASEAN

Tian Arief
06-09-2016 09:39

Konferensi ASEAN oleh PPI Belanda di Leiden (GATRAnews/Yuke Mayaratih)

Leiden, GATRAnews - Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda (PPI Belanda) menggelar International Conference on ASEAN Development 2016 (ICAD 2016), mengingat ASEAN merupakan organisasi yang semakin efektif di awal 2016. Konferensi yang digelar selama dua hari (3-4/9), di Leiden ini, menghadirkan 110 peserta, termasuk pada dubes negara ASEAN di Belanda.

Menurut Ketua Panitia ICAD 2016 Al Hadid Endar Putra, selain dihadiri para dubes, juga hadir para mahasiswa dan perwakilan masing-masing kedutaan negara kawasan Asia Tenggara. Para dubes ini bertemu dalam Ambassador Forum, sebagai rangkaian acara ICAD 2016 yang membahas mengenai masa depan perkembangan integrasi ASEAN.

Sekretaris Jenderal PPI Belanda Ali Abdillah mengatakan, konferensi yang bertema “Innovating ASEAN Economic Community: Looks to the EU for the Lessons” ini merupakan bentuk dukungan PPI Belanda terhadap integrasi ASEAN Community yang semakin erat.

“Kita tidak boleh lagi memandang integrasi ASEAN sebagai sebuah kompetisi. Tidak boleh lagi sekadar berbicara soal keuntungan ASEAN bagi Indonesia. Negara-negara di ASEAN harus tumbuh bersama dan berkolaborasi satu sama lain,” ujarnya Ali kepada GATRAnews.

Ali menambahkan, selain mengundang para duta besar negara ASEAN, para pelajar dari negara-negara ASEAN di Belanda juga terlibat dalam konferensi ini. “Jadi, proses kerja sama itu tidak hanya terjadi di tataran para elit, tetapi juga di kalangan para pelajar,” tuturnya.

Al Hadid menjelaskan, konferensi ini dibagi ke dalam empat topik besar, yakni hukum dan politik; ekonomi; teknologi; pariwisata dan budaya. Diskusi keempat topik tersebut dipandu oleh ahli di bidang masing-masing. Mereka adalah Associate Professor dari Leiden University Dr. Armin Cuyvers (hukum dan politik), Profesor Stenden University Leeuwarden Conrad Lashley (pariwisata dan budaya), Dosen Roterdam Business School Matthijs van den Broek, dan Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Rully Tri Cahyono (teknologi).    

Pada hari kedua, yang dihadiri 90 peserta, para ahli memandu diskusi dan menilai presentasi para presenter yang telah dipilih oleh tim paper reviewer sebelumnya. Sebanyak lebih dari 400 abstrak paper telah diterima oleh panitia pada Mei lalu. Dari 400-an abstrak tersebut, tim reviewer menyeleksi menjadi 80 abstrak terpilih. Para penulis abstrak tersebut kemudian diminta untuk menulis paper secara utuh. “Akhirnya, kami memilih 16 penulis paper terbaik yang diberi kesempatan untuk menyampaikan presentasi di konferensi ini,” ujarnya.

"Nah kesimpulan dari konferensi ini akan dijadikan sebuah buku yang dikirim kepada Sekjen ASEAN dan digunakan sebagai acuan untuk ASEAN Summit 2017 di Cebu, Filipina," jelas Al Hadid.

Mantan Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI, I Gusti Wesaka Puja, dalam sambutannya mengatakan, konferensi ini dapat memberi sumbangsih terhadap pembangunan ASEAN. Sementara itu, prinsip ASEAN “one vision, one identity, one community” harus terus menjadi pegangan para warga, termasuk mahasiswa, negara-negara ASEAN.

“ASEAN tidak boleh meninggalkan satu pun negara berada di belakang, di sinilah pentingnya kita semua membangun feeling of ASEAN bersama-sama, bahwa kita adalah bagian dari ASEAN yang harus mendukung satu sama lain,” jelas Puja, yang saat ini juga menjabat sebagai duta besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda.

Duta Besar Thailand untuk Kerajaan Belanda, Ittiporn Boonpracong, dalam kesempatan menyatakan dukungannya pada proses integrasi ASEAN. Semua negara, menurutnya, harus fokus pada peningkatan konektivitas antarnegara, baik di bidang transportasi, pariwisata, sains dan teknologi. Pendekatan kolaborasi bottom up yang diinisiasi para pelajar ini adalah satu langkah positif, karena ASEAN ke depan berada di tangan para pelajar saat ini.

Walaupun diinisiasi oleh pelajar Indonesia, konferensi pembangunan ASEAN ini juga melibatkan para pelajar ASEAN lainnya. Selain sebagai peserta konferensi, para pelajar negara lain juga terlibat langsung dalam proses kepanitiaan. Untuk MC kegiatan, misalnya, selama dua hari berjalan, konferensi kegiatan dipandu oleh pelajar dari Thailand, Filipina, maupun Indonesia. Selain itu kegiatan ditutup oleh penampilan kesenian tradisional dari pelajar Thailand dan Indonesia.


Reporter: YM, Leiden-Belanda
Editor: Tian Arief

Tian Arief
06-09-2016 09:39