Main Menu

PPI Nijmegen Belanda Gelar Acara Budaya Negara ASEAN

Tian Arief
05-05-2017 13:59

Salah satu tarian tradisional dalam acara SEACE (GATRAnews/Dok PPI Nijmegen)

Nijmegen, GATRAnews - Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Nijmegen, didukung KBRI Den Haag Belanda, menggelar Southeast Asian Cultural Event (SEACE) pada akhir bulan lalu. Acara yang yang mengusung tema “One Vision in Cultural Sustainability” ini berlangsung di Theater de Lindenberg, Nijmegen, dan merupakan acara kolaborasi seni mahasiswa Asia Tenggara pertama di Belanda.

SEACE menampilkan beragam seni tarian dan musik dari beberapa negara anggota ASEAN, di antaranya Indonesia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada PPI Nijmegen yang telah menginisiasi kolaborasi antarmahasiswa dan komunitas Asia Tenggara di Belanda.

Menurut Puja, dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (5/5), sudah saatnya ASEAN bersatu untuk maju karena kita berani untuk bermimpi dan peduli untuk berbagi dalam ASEAN. Beliau juga berharap agar kedepannya mahasiswa ASEAN akan terus bersemangat untuk berkolaborasi satu sama lain.

Kanak Dance yang ditampilkan anak-anak Indo di Belanda menjadi pembuka acara, dilanjutkan dengan Pililin mo ang Pilipinas yang merupakan tari kontemporer dari Filipina. Hadir pula Vietnamese Acoustic Band memeriahkan acara yang dipadati lebih dari 200 penonton ini.

Acara yang dimulai sejak pukul 11.30 sampai pukul 18.30 ini juga menampilkan Bye Sri Ku Kwan, tari tradisional dari Thailand, Angklung performance dari Indonesia, Pendet Dance, Tari Batak, Pencak Silat dan beberapa pertunjukan lainnya.

Selain memanjakan pengunjung dengan rangkaian tari dan musik, panitia juga menghadirkan keynote speech dengan judul “Indiana Jones in Asia – The colonial archaeologist as a hero?” yang disampaikan Dr. Martijn Eickhoff, yang mengisahkan tentang fenomena dari Colonial Archeologist as Hero.

Eickhoff juga memaparkan tentang pengaruh kolonialisme dalam penemuan jati diri dan pelestarian kultur di Indonesia dan Asia melalui biografi dari seorang prehistorian Belanda yang bernama Van Stein Callenfels. Van Stein Callenfels berhasil menggali dan menemukan kultur sejarah Indonesia dan Asia pada kisaran tahun 1920-1930 yang pada akhirnya hasil penemuannya dapat dilihat di Museum Nasional Jakarta.

Selain itu, beberapa souvenir khas Indonesia diberikan kepada penonton yang beruntung menjawab kuis seputar ASEAN dari panitia. Di samping penampilan kultur dan budaya, food bazar juga disiapkan untuk mengobati kerinduan para penonton dengan makanan khas Asia Tenggara.

Pengunjung sangat antusias menikmati sajian kuliner dari Indonesia dan Malaysia seperti otak-otak, nasi rames, siomay, rojak, nasi lemak, es dawet, kue talam, dan beberapa makanan lainnya. Caro Strujike, seorang pengunjung, menyampaikan kegembiraanya bisa mengenal budaya Asia Tenggara umumnya dan Indonesia khususnya.

Salah satu penampilan yang sangat berkesan bagi dia adalah angklung dan pencak silat. Menurutnya, sebagai salah satu dosen di Radboud In’to Language yang focus dengan topik Cross Culture Understanding, acara ini menunjukkan betapa ASEAN, terutama Indonesia mempunyai budaya yang sangat beragam dan menarik untuk dipelajari. Seperti acara Indonesian cultural festival lainnya, SEACE menjadi ajang berkumpul warga dari negara Asia Tenggara atau keturunan yang sudah lama menetap di Belanda untuk melepas rindu mereka pada budaya Asia Tenggara.

Suasana semakin cair ketika pembawa acara mengajak seluruh penonton untuk ikut serta menari poco-poco (Indonesia) di panggung utama sebagai bentuk penutupan acara yang diharapkan bisa diselenggarakan setiap tahun.


Editor: Tian Arief

Tian Arief
05-05-2017 13:59