Main Menu

Pope: Minta Akhiri Konflik Israel-Palestina

Arif Prasetyo
25-12-2017 21:38

Paus Francis (tengah) melambaikan tangan dari balkon basilika Santo Petrus di Vatikan. (25/12). (AFP/Andreas SOLARO/FT02)

Vatican, Gatracom - Paus Francis dalam pesan Natalnya meminta dua negara untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina. Pemicu ketegangan ini setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui atas Yerusalem sebagai ibukota Israel.


Sebagaimana dilansir laman Reuters, Francis berbicara tentang konflik Timur Tengah dan titik nyala dunia lainnya dalam pidatonya "Urbi et Orbi" (ke kota dan dunia), empat hari setelah 120 negara mendukung sebuah resolusi PBB yang mendesak Amerika Serikat untuk mencabut keputusannya di Yerusalem.

"Mari kita berdoa agar kehendak untuk melanjutkan dialog dapat terjadi di antara para pihak dan bahwa solusi yang dinegosiasikan akhirnya bisa tercapai, yang memungkinkan damai dua negara di dalam perbatasan yang disepakati dan diakui secara internasional," kata Paus, dari balkon Basilika Santo Petrus, Vatikan, Senin (25/12).

"Kami melihat Yesus, anak-anak Timur Tengah yang terus menderita karena meningkatnya ketegangan antara orang Israel dan Palestina," jelas Paus dihadapan puluhan ribu umat Katolik.

Ini yang kedua kalinya Paus berbicara secara terbuka tentang Yerusalem sejak keputusan Trump pada 6 Desember 2017. Pada hari itu, Francis meminta "status quo" kota untuk dihormati, agar tidak terjadi ketegangan baru di Timur Tengah yang mengobarkan konflik dunia.

Warga Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara merdeka masa depan mereka, sedangkan Israel telah menyatakan seluruh kota sebagai modal "bersatu dan abadi".

Francis, pemimpin 1,2 milyar umat Katolik Roma di dunia, mendesak orang-orang untuk melihat bayi Yesus yang tak berdaya pada anak-anak yang paling menderita akibat perang, migrasi dan bencana alam yang diakibatkan manusia hari ini.

Fransiskus, merayakan Natal kelima dari kepausannya, juga berbicara soal konflik Muslim Rohingya di Myanmar yang terusir dan mengungsi ke Bangladesh. Paus meminta perlindungan yang memadai terhadap martabat kelompok minoritas di wilayah itu.

Lebih dari 600.000 orang Muslim Rohingya meninggalkan sebagian besar Myanmar ke Bangladesh dalam beberapa bulan terakhir.

Paus harus menginjak garis diplomatik yang halus selama kunjungannya, menghindari kata "Rohingya" sementara di Myanmar, yang tidak mengenal mereka sebagai kelompok minoritas, meskipun dia menggunakan istilah itu saat berada di Bangladesh.


Editor: Arief Prasetyo

Arif Prasetyo
25-12-2017 21:38