Main Menu

Cendikiawan Muslim Oxford, Tariq Ramadan Didakwa Kasus Perkosaan

Birny Birdieni
03-02-2018 20:03

Tariq Ramadan (Reuters/Stephane Mahe/yus4)

Paris, Gatra.com- Sarjana Muslim terkemuka dan Profesor Oxford Studi Islam, Tariq Ramadan didakwa melakukan pemerkosaan berdasarkan klaim dua wanita yang menyatakan diserang di kamar hotel Prancis.

 

Ramadan ditangkap oleh polisi Prancis Rabu (31/1) lalu dan didakwa pada Jumat (2/2) dengan tuduhan memperkosa pada tahun 2009 dan 2012. Sumber peradilan mengatakan kalau ia menghadapi penyelidikan secara ekstensif.

 

Setelah diinterogasi selama dua hari oleh penyidik, Profesor berusia 55 tahun itu langsung dibawa ke hadapan tiga hakim. Keputusan tersebut disambut baik oleh Jonas Haddad, pengacara yang mewakili salah seorang korban, Henda Ayari yang juga penulis dan aktivis feminis di Prancis.

 

"Kalau ada korban lain di Prancis atau tempat lain, mereka sekarang tahu bahwa sistem peradilan akan merespons apa yang telah terjadi pada mereka," ungkap Jonas dilansir dari Telegraph, Sabtu (3/2).

 

Ayari menggambarkan kisah kekerasan seksual yang dialaminya tersebut dalam sebuah buku yang diterbitkan pada 2016 lalu. Dalam buku tersebut, ativis yang sebelumnya mempraktikkan gerakan islam konservatif itu tidak menyebutkan pelaku penyerangannya tersebut.

 

Pada 20 Oktober lalu, Ayari memutuskan untuk mengungkap nama Ramadan secara terbuka sebagai pelaku kekerasan seksual tersebut. Kepada Koran Le Parisien, ia mengatakan kalau dirinya diperkosa di kamar hotelnya. "Dia mencekikku begitu keras sampai mengira aku akan mati," ungkapnya.

 

Sebelumnya, seorang wanita difabel juga menuduh Ayah empat anak tersebut memperkosanya di sebuah kamar hotel di kota tengara Lyon, tahun 2009 lalu. Wanita yang menggunakan nama samaran "Christelle" itu bersaksi di depan Hakim dan Ramadan selama tiga jam.

Majalah Vanity Fair, yang bertemu dengannya mengatakan kalau tuntutan dia terhadap Ramadan menggambarkan kekerasan seksual dan fisik. Ia mengalami pukulan pada wajah dan tubuh, sodomi paksa, hingga pemerkosaan dengan benda dan berbagai penghinaan. Termasuk diseret rambut ke bak mandi dan dikencingi.

 

Nama Ramadan menjadi booming di Prancis setelah muncul Kampanye "Me Too" akan pelecehan dan kekerasan seksual yang terjadi. Klaim melawan warga Swiss yang juga cucu pendiri Ikhwanul Muslimin, Hasan al-Banna itu terjadi setelah muncul "Skandal Harvey Weinstein" di Amerika Serikat yang berkisah tetang serangan tersebut.

 

Ramadan membantah hal tersebut. Ia menyebut kalau dirinya sebagai korban sebuah kampanye kotor. Pengacara Ramadan mengatakan kalau Ayari melakukan fitnah dan berkolusi untuk mempermalukan kliennya.

 

Adapun pihak Universitas Oxford mengatakan bahwa Ramadan mengalami cuti dari jabatannya sebagai profesor studi Islam kontemporer sejak November lalu dengan kesepakatan bersama. Meski tidak hadir di Oxford, ia masih terus memimpin Islamic Institute for Ethical Training di Prancis.

 


 

Editor : Birny Birdieni

Birny Birdieni
03-02-2018 20:03