Main Menu

Ini Bahasan Pertemuan Erdogan dengan Paus Francis di Vatikan

Birny Birdieni
05-02-2018 17:32

Presiden Turki Tayyip Erdogan tiba di Vatikan (Reuters//Alessandro Bianchi/yus4)

Vatikan, Gatra.com - Presiden Turki Tayyip Erdogan bertemu dengan Paus Francis untuk membahas Yerusalem, Senin (5/2). Pertemuan tersebut juga terkait dampak dari keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui kota suci tersebut sebagai ibukota Israel. Seperti dilansir dari Reuters, keduanya juga diperkirakan akan membahas problematika terkait Suriah dan Irak. Hingga tentang bantuan kemanusiaan dan pengungsi di wilayah konflik tersebut.

Rombongan Erdogan tiba di Lapangan Santo Petrus yang sepi karena ditutup karena alasan keamaan dari pertemuan tersebut. Biasanya, area itu ramai dikunjungi oleh turis. Menyambut kedatangan dia, rencananya akan ada demonstrasi anti-Erdogan mengenai hak asasi manusia dan situasi orang Kurdi Turki.  Setidaknya ada sekitar 3.500 polisi dan pasukan keamanan bertugas.

Keduanya telah menyatakan keprihatinan atas tindakan sekutu Amerika Serikat yang dinilai menangkal upaya perdamaian Timur Tengah. Untuk konflik Palestina-Israel, Vatikan mendukung solusi bagi dua negara tersebut. Sebagai bagian dari proses perdamaian, artinya kedua belah pihak menyetujui status Yerusalem sebagai tempat tinggal suci bagi umat Islam, Yahudi dan Kristen.

Namun Warga Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibukota negara merdeka di masa depan. Sedangkan Israel telah menyatakan semua wilayah sudah menyatu sebagai sebuah kota.

Sebelum bertemu, Erdogan dan Francis telah berbicara melalui telepon setelah Trump mengumumkannya pemindahan Kedutaan Besar AS di Israel ke Yerusalem Desember lalu. Dalam percakapan tersebut, keduanya setuju bahwa setiap perubahan status kota harus dihindari.

Pertemuan ini membuat hubungan Erdogan dan paus menjadi lebih cair. Sebab tahun 2015 lalu keduanya sempat bersitegang, ketika Paus menjabat Kepala Gereja Katolik Roma itu secara terbuka menyinggung "Genosid" pembunuhan sebanyak 1,5 juta orang Armenia pada tahun 1915 silam. Ini adalah sesuatu yang selalu dibantah oleh Turki.

Sebelum meninggalkan Turki, Erdogan mengatakan kepada wartawan di Istanbul bahwa Amerika Serikat telah mengisolasi dirinya atas Yerusalem. "Dalam proses ke depan, ayo dan terima Yerusalem sebagai ibu kota Palestina. Inilah titik yang harus dicapai. Kami sekarang bekerja untuk ini, " ia menegaskan.


Editor : Birny Birdieni

Birny Birdieni
05-02-2018 17:32