Main Menu

Pertemuan Munich Yang Lebih Penting Dari Davos

Rosyid
21-02-2018 09:50

PM Israel Benjamin Netanyahu menunjukan serpihan pesawat tanpa awak milik Iran yang ditembak jatuh di wilayah udara Israel saat berpidato di Konferensi Keamanan Munich (MSC), Jerman, (18/2). (Lennart Preiss/MSC Munich Security Conference/Handout via REUTERS/FT02)

Munich, Gatra.com - Munich Security Conference, konferensi keamanan terbesar dunia berlangsung akhir pekan lalu di Munich. Belasan pemimpin dunia dan petinggi keamanan berkumpul di hotel mewah Bayerischer Hof, untuk berdebat, berdiskusi, pidato untuk mencari konsensus kebijakan pertahanan internasional.

Dibandingkan pertemuan World Economic Forum di Davos, Swiss, pertemuan di Munich digambarkan lebih penting karena rencana dan ide ide yang dibicarakan sesuatu yang sudah atau sedang terjadi.  Di Davos banyak hal-hal besar dan visioner dibicarakan, tapi aplikasinya nyaris tidak banyak dibicarakan. Atau bahkan tidak ada aksi kongkrit sama sekali.

Pertemuan yang digagas 50 tahun lalu itu terkenal karena para pemimpin bicara lebih terbuka, dengan bahasa langsung dan terus terang tanpa bungkus diplomasi yang rumit.  Tahun lalu  pidato Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker  terang-terangan meminta negara-negara Eropa untuk tidak menuruti permintaan Presiden AS Donald Trump guna menambah anggaran belanja militer di NATO

Dalam konferensi yang sama 2007, Presiden Russia Vladimir Putin secara terbuka mengecam monopoli AS dalam politik internasional. "Melewati batas nasionalnya dalam segala hal," kecamnya kala itu

Dalam pertemuan ini, kebijakan-kebijakan penting politik luarnegeri dibicarakan dan diaplikasikan.  Contohnya, dalam konferensi 2015, Menlu Amerika Serikat saat itu John Kerry bertemu Menlu Iran Mohammad Javad Zarif  hingga duakali  untuk membicarakan apakah sebuah kesepakatan akan dibuat atau tidak terkait program pengembangan nuklir Iran. Pembicaraan itu kemudian memberi jalan bagi kesepakatan nuklir bersejarah antara Iran dengan AS, Inggris, Prancis, Jerman Russia dan China  dikenal dengan nama resmi Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), diteken  Juli 2015.  Contoh lain,  pada pertemuan tahun lalu menlu Ukraina, Russia, Jerman dan Prancis  merancang gencatan senjata di Ukraina.  Gencatan senjata itu akhirnya  tercipta, meskipun umurnya pendek. 

Tahun ini pertemuan yang seharusnya menjadi ajang mencari  penyelesaian bersama berubah menjadi ajang ancaman dan kecaman.  Tahun ini yang akan dicatat bicara terus terang adalah PM Israel Benjamin Netanyahu. situs NPR mencatat dalam momen yang dramatis pada Minggu (18/2) berbicara pada Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif. Zarif hadir dalam konfrensi itu tapi tidak dalam audiensi dengan Netanyahu. "Tuan Zarif, apakah anda mengenali ini? katanya Netanyahu sambil menganggkat bilah rongsokan yang katanya adalah bagian dari puing-puing drone Iran yang ditembak jatuh di wilayah Israel awal bulan ini. "Seharusnya anda tahu. Karena ini milik anda. Anda bisa membawanya kembali ke Teheran. Jangan menguji keputusan Israel." Teheran membantah drone itu milik mereka.  

Netanyahu yang sedang terbelit kasus suap,  mengatakan  didepan konferensi tersebut bahwa Iran berusaha memperluas kontrolnya di Timur Tengah melalui proxy politik di Suriah, Yaman, Gaza dan Lebanon. Dia bahkan mengklaim, Iran ingin memberikan senjata modern, canggih yang bisa dipandu presisi kepada Hizbullah di Lebanon. Senjata yang bisa "mengubah permainan" kata Netanyahu.

Netanyahu juga mengkritik JCPOA  Juli 2015 dan  menyamakannya dengan Persetujuan Munich tahun 1938 di mana Nazi Jerman diizinkan untuk mencaplok sebagian Cekoslowakia. 

Zarif, yang naik panggung sejam setelah Netanyahu, menyebut presentasi pemimpin Israel itu sebuah "sirkus kartun". 

Beberapa pemimpin dan menteri dari Timur Tengah yang menghadiri konferensi tersebut mengecam negara tetangganya dan mengancam tindakan militer. 

Isu lain yang menonjol tahun ini adalah progam senjata Korea Utara. program nuklir dan misil balistik Korea Utara. "Semua negara sekutu sekarang berada dalam jangkauan peluru kendali Korea Utara," kata Sekjen NATO, Jens Stoltenberg. "Pyongpyang lebih dekat ke Munich daripada ke Washington D.C., maka seharusnya kita menekan Korea Utara untuk menghentikan program nuklirnya."

Dia menyarankan sanksi diplomatis, namun peserta konferensi yang lain khawatir sanksi-sanksi yang diberikan pada negara itu itu akan memicu kemarahan dan berujung perang. Sementara AS mengatakan mereka tidak punya rencana untuk melakuan pre-emptive strike dan memuntut komunitas global berbuat lebih banyak untuk meredam ambisi Korut.   


 

Editor: Rosyid

 

Rosyid
21-02-2018 09:50