Main Menu

Reaksi Russia Paska Pengusiran Diplomat dari Inggris

Rosyid
15-03-2018 08:06

Perdana Menteri Inggris, Theresa May.(REUTERS/Toby Melville/re1)

London, Gatra.com - Pemerintah Inggris mengusir 23 diplomat Rusia menyusul serangan senjata kimia terhadap bekas agen ganda Rusia di Inggris yang disebut Perdana Menteri Inggris Theresa May dilakukan oleh Rusia. Ini menjadi pengusiran diplomat paling besar sejak Perang Dingin.



May terang-terangan mengarahkan tuduhan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, Rabu (14/1) waktu setempat, saat menggarisbawahi aksi balasan Inggris dalam pidato parlemen.

Rusia sendiri membantah terlibat dalam serangan terhadap mantan mata-mata Sergei Skripal dan putrinya Yulia yang sampai saat ini terbaring kritis di sebuah rumah sakit sejak didapati tumbang 4 Maret lalu di sudut kota Salisbury, Inggris.

May mengancam akan membekukan asset-asset negara Rusia yang mengancam keamanan negara Inggris, lalu menerapkan undang-undang baru demi menghadang aktivitas negara yang bermusuhan dengan Inggris dan menurunkan keperansertaan Inggris pada Piala Dunia Rusia musim panas ini.

May sudah mengultimatum Rusia sampai Selasa tengah malam waktu Inggris untuk menjelaskan bagaimana gas saraf Novichok buatan Uni Soviet bisa berkeliaran di jalan-jalan kota Salisbury. May harus memilih antara bertanggung jawab atas serangan kepada Skripal itu atau mengakui sudah tidak bisa lagi mengendalikan cadangan gas saraf itu.

"Tanggapan mereka menunjukkan penghinaan luar biasa atas gawatnya masalah ini. Mereka memperlakukan penggunaan gas saraf derajat militer di Eropa dengan sarkasme, penghinaan dan pembangkangan," kata May di gedung parlemen seperti dikutip Antara, Kamis (15/3).

Satu-satunya kesimpulanyang mungkin adalah negara Rusia berada di balik percobaan pembunuhan duo Skripal dan turut berdampak kepada Nick Bailey, polisi yang tengah dalam kondisi serius setelah terpapar gas saraf itu, sambung May.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan Moskow akan  dengan cepat membalas langkah Inggris yang disebut mereka beragenda politik pendek.

"Pemerintah Inggris telah mengambil pilihan yang lebih mendukung konfrontasi dengan Rusia," kata kementerian luar negeri Rusia seperti dikutip Reuters.

Sementara itu Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, mengulangi bantahan Rusia bahwa negaranya sama sekali tidak punya urusan dengan peracunan Skripal dan menantang Inggris untuk membuktian keterlibatan Rusia.

"Kami menuntut bukti material disediakan atas dugaan temuan jejak Rusia," kata Nebenzia dalam pertempuan Dewan Keamanan PBB menyangkut peracuan mantan agen spionase Rusia itu.


Editor: Rosyid

Rosyid
15-03-2018 08:06