Main Menu

Ketika Batik, Songket Hingga Kain Iban Berkunjung Ke London

Bernadetta Febriana
21-04-2018 10:02

Pameran Wastra Nusantara di KBRI London (Dok. KBRI London/FT02)

Artikel Terkait

Jakarta, gatra.com - Quoriena Ginting tertawa saat menjawab pertanyaan kain apa yang menjadi koleksi pertamanya. "Kain batik kompeni motif kapal yang sudah robek-robek,” jawab Quoriena, kolektor wastra Indonesia yang juga penulis buku Nusawastra Silang Budaya. Selama dua hari, pada tanggal 20-21 April 2018, sebanyak 80 wastra Indonesia koleksi pribadi Quoriena dipamerkan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di London.



Kegiatan yang bertajuk Nusawastra Silang Budaya: Indonesian Textiles at the Crossroads of Culture ini tidak hanya memamerkan koleksi wastra Indonesia dari berbagai penjuru nusantara, tetapi juga diisi dengan selebrasi peluncuran buku Nusawastra Silang Budaya edisi bahasa Inggris, diskusi seputar wastra Indonesia, dan juga workshop batik.

Duta Besar RI untuk Inggris Raya, Republik Irlandia, dan Organisasi Maritim Internasional, Dr. Rizal Sukma menyampaikan apresiasinya atas kerja sama yang baik antara KBRI dengan Tim Nusawastra Silang Budaya dalam penyelenggaraan kegiatan kali ini. “Identitas dan sejarah panjang bangsa Indonesia dapat kita saksikan dalam kisah di balik setiap wastra yang tampil di sini” ujarnya. Menurutnya, wastra Indonesia merupakan salah satu bentuk promosi budaya Indonesia yang efektif.

“Wastra Indonesia tidak hanya menggerakkan ekonomi nasional, tetapi juga mendorong pemberdayaan masyarakat,” tambah Rizal yang mengaku terpaksa harus pegang ‘contekan’ saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan kegiatan. “Mohon maaf nih saya pegang catatan, daripada salah bicara tentang wastra Indonesia,” jelasnya sambil tertawa.

Dari batik tiga negeri, hingga batik kompeni, dari songket Palembang hingga kain Iban memukau pengunjung yang sangat antusias berkeliling dipandu Quoriena. Di dunia wastra Indonesia, kain Iban adalah yang termahsyur. “Banyak yang kini sudah bermukim di museum-museum di Amerika Serikat dan Eropa,” jelas Quoriena. Kain Iban menjadi sangat langka bahkan di bumi pertiwi.

Motif kain Iban dibuat sesuai dengan hasil bisikan gaib yang didapatkan oleh penenunnya dalam mimpi. Wanita Iban khususnya tahu bahwa kain tersebut merupakan bagian penting dalam ritual kehidupan mereka. Mulai dari berfungsi untuk menggendong bayi, sarana penyembuhan, hingga menyelimuti jenazah.

“Senang ternyata banyak warga Inggris yang juga kolektor wastra Indonesia,” ujar Rizal, seperti disampaikan dalam rilis yang diterima gatra.com.

Pembukaan kegiatan memang dihadiri banyak warga Inggris yang merupakan kolektor wastra Indonesia, pengamat dan pencinta wastra, dan juga pengrajin batik di Inggris Raya. Setidaknya tercatat hampir 300 pengunjung yang mendaftar untuk hadir dan menikmati seluruh rangkaian kegiatan selama dua hari.


Editor : Bernadetta Febriana

Bernadetta Febriana
21-04-2018 10:02