Main Menu

Pernikahan Tak Biasa Pangeran Harry dan Meghan Markle

Bernadetta Febriana
19-05-2018 22:57

Pangeran Harry dan istrinya, Meghan. (REUTERS/Damir Sagolj/FT02)

Jakarta, gatra.com - Pangeran Harry dan Meghan Markle akhirnya resmi mengikatkan janji pernikahan di Kapel St. George, Windsor, Sabtu (19/05) waktu setempat. Rangkaian acara yang tidak biasa mengisi prosesi pernikahan kedua mempelai yang kemudian bergelar The Duke and Duchess of Sussex tersebut.

Hadirnya paduan suara gereja yang menyanyikan lagu Stand By Me dan juga hadirnya seorang uskup dari Amerika Serikat, Michael Curry yang memberikan khotbah perkawinan bertajuk The Power Of Love, adalah suatu yang di luar kebiasaan upacara pernikahan anggota Kerajaan Inggris pada umumnya.

Dikutip dari New York Times, pernikahan Harry dan Meghan membawa warna lain dalam kebiasaan Kerajaan Inggris yang terkenal kolot itu. Beberapa tradisi didobrak oleh pasangan beda negara itu, mulai dari kue pengantin yang berbeda hingga Meghan yang mantap memutuskan berjalan sendiri sepanjang lorong gereja tanpa didampingi siapapun (karena sang ayah baru saja menjalani operasi jantung), sebelum kemudian ditemani oleh Pangeran Charles ketika sudah separo jalan menuju altar.

Untuk menghormati almarhumah ibunda Pangeran Harry, Puteri Diana, pihak Kerajaan memberikan kesempatan kepada kakak tertua Diana, The Lady Jane Fellowes, untuk membacakan Kidung Solomon, sebuah surat dalam Kitab Perjanjian Lama yang banyak berisi naskah-naskah mengenai cinta dan perkawinan.

Ini juga pertama kalinya Kerajaan Inggris mempunyai anggota keluarga baru yang sudah menjanda, warga negara Amerika Serikat dan berasal dari golongan 'kulit berwarna'. Ibunda Meghan, Doria Ragland adalah perempuan kulit hitam yang dulunya pernah menjadi budak di Amerika Selatan. Untuk menghormatinya, tak heran bila Harry dan Meghan membawa budaya orang-orang berkulit hitam seperti paduan suara yang anggotanyanorang-orang Afrika-Amerika, dan Doria sendiri juga didudukkan di barisan yang terhormat.

Nampaknya, Kerajaan Inggris memulai sebuah era baru yang lebih terbuka dengan perkawinan dua mempelai berbeda latar belakang yang sangat mencolok ini. Termasuk, mengundang lebih banyak masyarakat biasa dalam pesta untuk merayakan kebahagiaan pasangan baru ini.


Editor : Bernadetta Febriana

Bernadetta Febriana
19-05-2018 22:57