Main Menu

Diam-Diam Penasehat Trump Bertemu Brexiteers untuk Kesepakatan Perdagangan

G.A Guritno
03-07-2018 07:09

Penasehat keamanan AS, John Bolton. (REUTERS/Alexander Zemlianichenko/FT02)

London, Gatra.com - Jelang kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke Inggris, salah satu penasihat paling terpercaya Trump mengadakan pertemuan rahasia dengan anggota parlemen senior Konservatif yang sketis terhadap Uni Eropa (Eurosceptic).

 

John Bolton, penasehat keamanan nasional Trump, menghabiskan lebih dari satu jam membahas Brexit dengan anggota Kelompok Peneliti Eropa (The European Research Group/ERG) dari anggota parlemen Konservatif di London pekan lalu.

Seperti ditulis oleh The Sunday Telegraph, dia mengungkapkan bahwa presiden AS ingin mempercepat kesepakatan perdagangan dengan Inggris setelah Brexit.

Dalam pertemuan itu, Bolton menekankan antusiasme Trump terhadap Brexit dan keyakinannya bahwa AS dan Inggris dapat menyetujui kesepakatan perdagangan dua tahun setelah Inggris meninggalkan Uni Eropa.

Meskipun Bolton bertemu Sir Mark Sedwill, penasihat keamanan nasional Inggris, selama kunjungan itu tampaknya Downing Street 10 atau Kediaman Perdana Menteri Inggris tidak mengetahui soal pertemuan ERG itu.

Tidak ada pejabat dari Pemerintah yang hadir, dan sumber-sumber mengatakan pegawai pemerintah di Whitehall (gedung Sekretaris Kabinet) "marah" bahwa mereka bukan bagian dari pertemuan itu.

Reputasi Perdana Menteri Theresa May beresiko dirusak lebih lanjut jika Trump memilih untuk bertemu dengan anggota parlemen Brexiteers secara pribadi ketika dia mengunjungi Inggris pada akhir minggu ini, karena banyak orang di Westminster percaya kemungkinan tersebut.

Berita tentang pertemuan diam-diam itu datang hanya beberapa hari sebelum pertemuan penting Kabinet di kediaman May di Chequers untuk menyelesaikan strategi negosiasi Inggris dan menyetujui kertas putih pemerintah yang baru. Kertas putih ini akan diterbitkan minggu ini juga, yang akan mengatur program Inggris setelah Brexit.

Perdana Menteri menghadapi tekanan yang meningkat akhir pekan lalu, karena sejumlah isu.

Lusinan anggota parlemen Tory menetapkan serangkaian garis merah (ultimatum) terkait Brexit bahwa May tidak boleh lagi main-main, termasuk kelanjutan kebebasan bergerak atau tetap menjadi bagian dari serikat pabean. Kepedulian tumbuh bahwa David Davis, Sekretaris Negara untuk Keluar dari Uni Eropa, bisa keluar dari pembicaraan setelah muncul bahwa makalah briefing untuk pertemuan mereka akan disusun oleh Oliver Robbins, seorang penasihat UE-nya.

Pemerintah dipaksa untuk "secara signifikan meningkatkan kecepatan dan intensitas" negosiasi dengan strategi baru dalam "membagi dan mengatur", yang akan digunakan para menteri menyampaikan rencana mereka langsung kepada pemerintah, dengan menerjemahkan kertas putih ke setiap bahasa di Uni Eropa.

May mengisyaratkan untuk bertarung di pemilihan umum berikutnya dengan mengajukan permohonan kepada anggota parlemen, rekan-rekan dan anggota partai untuk membantu menyusun 1.000 ide kebijakan baru, yang merupakan perombakan terbesar dalam proses pembuatan kebijakan pada satu dekade ini.

Bernard Jenkin, Bill Cash dan Duncan Smith - semua tokoh senior dalam ERG dari 60 anggota parlemen Konservatif yang telah mengenal Bolton selama beberapa tahun - ikut menghadiri pertemuan dengan Bolton.

Bill mengatakan bahwa Bolton memberikan pandangan positif tentang apa yang dia yakini terkait pikiran Presiden Trump tentang Brexit. Dia mengatakan: "Sebelum kunjungan presiden ada beberapa hal positif yang dikatakan tentang potensi kesepakatan perdagangan."

Secara terpisah, dilaporkan bahwa Trump sedang mengevaluasi biaya memindahkan atau menarik pasukan dari Jerman, di mana Amerika Serikat memiliki pasukan terbesar yang ditempatkan di luar negeri.

Langkah seperti itu akan membuat UE semakin bergantung pada kontribusi Inggris di NATO. May ingin meningkatkan tekanan di Brussels untuk membuat kemajuan dalam pembicaraan Brexit dengan mengirim menteri untuk bertemu dengan para pemimpin negara Uni Eropa secara terpisah untuk menjelaskan manfaat dari kesepakatan UK.

Pada pertemuan akhir pekan lalu di peristirahatan May di Checkers, May akan menyelesaikan perselisihan mengenai apakah Inggris mengadopsi kemitraan pabean dengan Brussels, yang melibatkan pengumpulan tarif atas nama Uni Eropa, atau opsi fasilitasi maksimum, yang bergantung pada teknologi baru untuk menghindari pembatasan yang keras, dengan menawarkan satu opsi "ambil atau tinggalkan".

Dua sub-komite dari para menteri Kabinet senior diminta untuk meninjau dua opsi itu oleh May. Mereka menyerahkan laporan mereka pada hari akhir pekan lalu dan satu kompromi "ambil atau tinggalkan" akan dipaparkan kepada Kabinet minggu ini.

Surat kepada May, yang diteken oleh 36 anggota parlemen, mendesaknya untuk "menunjukkan keberanian dan kepemimpinan dalam menghadapi mereka yang berusaha untuk meruntuhkan keinginan tersurat orang-orang Inggris dalam referendum 2016" dan menetapkan delapan garis merah.

Menjelang pertemuan di Downing Street muncul klaim bahwa May akan mencoba untuk membenturkan isu mengenai menerima pasar bebas untuk barang.

Sumber di Downing Street mengatakan: “Dalam pertemuan sampai di Chequers ada spekulasi bahwa Inggris bersedia untuk membiarkan isu terkait kebebasan bergerak sebagai bagian kelanjutan dari negosiasi. Pendirian Perdana Menteri jelas bahwa keputusan semacam itu tidak akan menghormati kehendak rakyat Inggris atau referendum.

Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
03-07-2018 07:09