Main Menu

Pangeran Muhammad Sampaikan Visi Saudi 2030

Dani Hamdani
26-04-2016 08:40

Muhammad bin Salman (Media Officer Mohammed Bin Salman/Bandar Algaloud/AFP)

Riyadh, GATRANews - Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya pada Senin petang Pangeran muda Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman, menyampaikan Visi 2030 kerajaan kaya minyak dan penguasa dua tempat suci umat Islam tersebut. Putra Raja Salmat berusia 31 tahun ini menyatakan akan mengurangi negaranya dari ketergantungan pada minyak.

 

"Kami tidak akan membiarkan negara kami menjadi korban volatilitas harga komoditas atau pasar luar," kata Pangeran Muhammad dalam jumpa pers pertamanya dengan media asing yang diundang ke Istana Riyadh.



"Kami telah membuat kasus kecanduan minyak di Arab Saudi," kata dia sebelum ini kepada saluran televisi al-Arabiya.


"Visi 2030" dia meliputi menaikkan pendapatan non migas menjadi 600 miliar riyal (160 miliar dolar AS) sampai 2020 dan 1 triliun riyal smapai 2030 dari 163,5 miliar riyal pada tahun lalu. Namun rincian rencana ini tidak dijabarkan.

 

Muhammad menyatakan negaranya yang menjadi eksportir minyak terbesar di dunia bakal mengakhiri kecanduannya kepada minyak dengan menjual perusahaan minyak Saudi Aramco pada publik.

 

Muhammad berharap Saudi Aramco bisa divaluasi menjadi lebih dari 2 triliun dolar AS (Rp 24,6 ribu triliun) setelah menjual sekitar 5 persen sahamnya lewat penawaran saham perdana atau IPO.


Dia menambahkan bahwa Saudi akan menaikkan modal dana investasi publiknya menjadi 7 triliun riyal (Rp24 ribu triliun) dari sebelumnya 600 miliar riyal (Rp 2,11 ribu triliun).



Rencana ini juga termasuk perubahan yang menata struktur sosial dari kerajaan ultrakonservatif itu dengan mendorong kaum perempuan berperan besar dalam perekonomian dan menawarkan status lebih kepada para ekspatriat.


Salah satu calon Raja Saudi Arabia itu memberikan jaminan memiliki jawaban untuk masalah sosial di Saudi, khususnya kaum muda yang menghadapi ancaman pengangguran dan kemunduran ekonomi kendati negeri mereka kaya minyak.


Para ekonom selama ini menganggap kebijakan fiskal Saudi dan struktur ekonominya tidak tumbuh berkelanjutan, namun pengurangan pendapatan dari penjualan energi telah membuat reformasi menjadi hal mendesak untuk dilakukan, demikian dilaporkan Reuters.


Editor: Dani Hamdani 

Dani Hamdani
26-04-2016 08:40