Main Menu

Saudi Naikan Visa, Siapa yang Terkena Dampak?

Dani Hamdani
11-08-2016 21:03

Masjidil Harram (GATRAnews/Dani Hamdani)

Jakarta, GATRAnews - Rumor bahwa visa ke Saudi Arabia naik menjadi Rp. 65 juta sempat membuat heboh, karena akan berdampak mahalnya biaya umroh dan haji. "Ah itu salah, banyak yang nambah-nambahin, itu cuma upaya Kerajaan Saudi untuk meningkatkan pendapatan di luar minyak," kata direktur sebuah pengelola umroh pada GATRAnews.

 

Seperti dilaporkan kanal berita Gulf News Rabu (10/8/16), kebijakan baru yang diumumkan Senin (8/8) itu akan lebih banyak berdampak pada para pekerja perusahaan swasta yang bekerja di Saudi Arabia.

 

Menurut Saudi Arabia Monetary Agency (SAMA), di Arab Saudi kini terdapat 8,9 juta warga asing yang bekerja di sektor swasta. Atau hampir sepertiga dari penduduk Kerajaan Islam tersebut. 

 

Kabinet Saudi, menurut Gulf News, menaikan biaya visa itu untuk meningkatkan pendapatan kerajaan di tengah rendahnya harga minyak.

 

Kenaikan itu sendiri datang dari Menteri Keuangan dan Menteri Perencanaan Ekonomi demi menaikan pendapatan Kerajaan dari sektor non minyak.

 

"Kenaikan visa ini berlaku untuk visa kerja, kunjungan, vitaresidensi, Umrah dan Haji, namun ada kekecualian untuk beberapa negara yang memiliki perjanjian bilateral dengan kerjaan Saudi," kata  deputi sekertaris menteri luar negeri untuk urusan konsuler Tameem Al Dosari, seperti dilaporkan harian Saudi Okaz pada Rabu.

 

Selain itu, lanjut Al Dosari, Saudi juga akan membebaskan biaya visa untuk mereka yang melaksanakan Umrah dan Haji untuk pertama kali.

 

Adapun biaya visa terbaru adalah sebagai berikut:

  • - Visa sekali masuk naik menjadi 2.000 Riyal Saudi (sekitar Rp. 7 juta)
  • - Visa untuk multiple-entry (berulangkali keluar masuk) selama 6 bulan 3.000 SR (sekitar 10,5 juta), kalau selama setahun 5.000 SR (sekitar Rp 17,54 juta) dan untuk 24 bulan adalah 8.000 SR (sekitar Rp. 32 juta)
  • - Transit visa 300 SR (1,05 juta) 
  • - Untuk yang meninggalkan Saudi lewat laut harus membayar 50 SR (sekitar Rp 175 rb).
  • - Orang asing yang melakukan satu kali perjalanan keluar negeri dalam waktu kurang dari 2 bulan harus membayar 200 SR (sekitar 700 ribu) dan tambahan 100 SR untuk tiap tambahan bulan selama ijin tinggalnya di Saudi masih berlaku.
  • - Untuk visa multiple-entry untuk lama tinggal kurang dari 3 bulan biayanya 500 SR (sekitar Rp. 1,75 juta) dan tambahan 200 SR setiap penambahan bulan selama ijin tinggal di Saudi masih berlaku. 

Pemerintahan Saudi tidak menyebutkan berapa pendapatan yang akan diraih dengan kenaikan visa yang datang dari sekitar 10 juta orang asing yang keluar masuk serta keluarganya yang berkunjung ke Kerajaan tersebut.

 

Yang pasti Majelis Kementrian yang dipimpin oleh Putra Mahkota Pangeran Muhammad Bin Naif menyatakan peraturan baru itu akan mulai berlaku pada 1 Muharam atau bertepatan dengan tanggal 2 Oktober 2016 ini.

 

Apakah akan besar pengaruh kenaikan itu terhadap pengeluaran dan perjalanan bisnis?

 

Mark Grayson, yang bekerja di sektor minyak dan gas, pada emirates247.com, menyatakan tidak akan banyak pengaruhnya. 

 

"Menurut saya struktur visa baru ini mungkin akan sedikit mempengaruhi pada beberapa perusahaan kecil. Tapi apakah akan berpengaruh terhadap jumlah perjalanan dinas, menurut saya tidak. Tidak terlalu signifikan," ujarnya.

 

Namun sebuah sumber yang tidak mau disebut, pada emirates247, menyatakan perusahaan kecil dan menengah akan mengurangi perjalanan ke luar negeri. 

 

"Untuk perusahaan besar mungkin kenaikan itu masih bisa diserap, tapi untuk UKM susah, pasti akan ada dampak pada perjalan dinas," ujarnya.

 

"Perjalanan dinas akan berkurang, juga layanan penerbangan kelas bisnis dan hotel bintang lima akan sedikit diturunkan," ujarnya.

 

Jadi kembali apakah era Umroh murah akan berakhir dengan aturan visa ini? Untuk mereka yang baru pertamakali melakukan Umroh kebijakan visa tersebut tentu tidak ada pengaruhnya sama sekali. Untuk umroh ke dua dan berikutnya, mungkin akan terkena visa multiple entry 3 bulan yang besarnya sekitar Rp 1,75 juta.


Editor: Dani Hamdani 

Dani Hamdani
11-08-2016 21:03