Main Menu

Arab Saudi Kian Serius Garap Haji dan Umroh Sebagai Sumber Devisa

Dani Hamdani
05-09-2016 11:25

Suasana musim Haji di masjidil Harram, Mekah (GATRAnews/Dani Hamdani)

Mekkah, GATRANews - Era kejayaan berdasar hasil minyak bumi perlahan mulai ditinggalkan Saudi Arabia. "Pemerintah Arab Saudi ingin mengembangkan haji dan umroh sebagai salah satu sumber pendapatan negara seiring krisis berkepanjangan harga minyak dunia," ujar Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Ahmad Dumyathi Bashori.

 

Apa yang disampaikan Bashori adalah kesimpulan setelah mengikuti pembukaan seminar haji Kementerian Haji dan Umroh Arab Saudi di Gedung Adz Dikra al Khalidah, Ruseifah, Mekkah, pada Minggu (4/9/16).

 

Pembukaan seminar tiga hari yang dihadiri perwakilan negara pengirim jamaah haji itu dilakukan oleh Menteri Haji dan Umroh Arab Saudi Muhammad Soleh bin Thahir Banten. Seorang menteri yang kabarnya masih memiliki darah Indonesia.

 

"Tahun ini terasa penting ketika Saudi Arabia berusaha mewujudkan visinya. Karena ada krisis minyak, Saudi berusaha untuk mengembangkan pendapatan di luar migas. Salah satu pendapatan yang paling potensial adalah persoalan haji dan umrah," kata Bashori seperti dilaporkan Antara.

 

Menurut Dumyathi, Arab Saudi ke depan ingin menjadikan umrah dan haji sebagai salah satu potensi pendapatan negara sehingga kalau selama ini visa gratis, maka ke depan tidak lagi. 

 

"Bagi yang haji pertama, kedua, masing-masing punya tarif sendiri. Umrah juga demikian," ujarnya.

 

Nama kementerian, kata Dumyathi, juga berubah dari Kementerian Haji saja menjadi Kementerian Haji dan Umrah.

 

Ketentuan baru ini sebetulnya sudah dirilis oleh pemerintahan Saudi pada pertengahan Agustus lalu: Saudi Naikan Visa, Siapa yang Terkena Dampak?

 

Haji Masa Lalu dan Sekarang

Di masa datang, menurut Bashori, perjalanan umrah juga akan dibuka untuk seluruh kota yang punya situs bersejarah dan tujuan wisata, seperti Taif, Riyadl, Tabuk, Jabal Magnet di Madinah, dan Madain Saleh.

 

"Ini merupakan potensi-potensi sejarah yang punya nilai tersendiri bagi para wisatawan muslim di dunia. Dan ini akan menjadi salah satu sumber pendapatan Saudi Arabia," katanya.

 

Masa untuk umrah juga tidak ada jeda lagi, setelah haji langsung dibuka. Untuk mengakomodasi wisatawan, saat ini sudah dibangun hotel terbesar yang ada di Mekkah serta mensinergikan pembangunan infrastruktur untuk mendukung visi tersebut. 

 

Dalam sambutanya pada seminar yang mengangkat tema "Haji Masa Lalu dan Sekarang" itu Menteri Haji Arab Saudi Muhammad Soleh bin Thahir Banten menggambarkan perjalanan jamaah haji zaman dahulu yang sangat sulit, rawan, dan banyak terjadi masalah.

 

Sekarang, menurut dia, perjalanan haji bisa dilakukan dalam waktu singkat, hanya beberapa jam karena menggunakan pesawat terbang. Dahulu perjalanan haji dari Indonesia menggunakan kapal laut dan memerlukan waktu perjalanan hinnga satu bulan. 

 

Jamaah haji saat ini, tambahnya, juga bisa berkomunikasi dengan keluarga mereka melalui media internet, baik suara maupun gambar.

 

Menteri yang mempunyai darah Indonesia ini mengatakan bahwa kementerian yang dipimpinnya saat ini terus melakukan pembaharuan dengan sistem e hajj. 

 

Semua paket ditawarkan secara elektronik sehingga setiap negara bisa memesan program yang diinginkan sesuai kemampuan masing-masing. Seminar ini lanjut Soleh, juga mengagendakan sejumlah pembahasan mengenai pengembangan- pengembangan masa depan sesuai dengan visi Arab Saudi 2030.

 

Salah satu peserta dari Delegasi Mesir mengucapkan terima kasih kepada Raja Arab Saudi yang mendukung penuh upaya memudahkan perjalanan haji sehingga menjadi perjalanan yang menyenangkan dan penuh kesan. 


Editor: Dani Hamdani  

Dani Hamdani
05-09-2016 11:25