Main Menu

Mata Air Disabotase, Warga Damaskus Kekurangan Air

Tian Arief
27-12-2016 11:02

Damaskus, GATRAnews - Warga kota Damaskus Suriah, tiga hari terakhir ini kekurangan air bersih, termasuk untuk air minum. Pemerintah Suriah menuduh pemberontak telah melakukan sabotase dengan mencemari sumber air bersih untuk Ibu Kota Suriah itu dengan minyak solar. "Serangan gerilyawan telah ditujukan ke semua sumber air yang memasok Damaskus dan daerah sekitarnya," kata juru bicara Dinas Pemasok Air Kota Damaskus.

Lembaga tersebut menyebutkan, pemerintah kota Damaskus memanfaatkan pasokan air cadangan untuk memenuhi sebagian kebutuhan air untuk lebih dari 5 juta jiwa di kota terbesar di negeri yang mengalami konflik itu. Kondisi pasokan air, katanya, akan lebih baik dalam beberapa hari ke depan.

Sementara itu, harian pro-pemerintah Al-Watan melaporkan, gerilyawan di Daerah Wadi Barada dan Ain Al-Figeh -di barat-laut Damaskus- telah mencemari air minum dengan bahan bakar mesin diesel alias solar.

"Untuk itu, pemerintah akan mengirim air dari sumur cadangan," demikian laporan Xinhua, yang dikutip Antara, di Jakarta, Selasa pagi (27/12).

Militer Suriah melancarkan pengeboman gencar ke posisi gerilyawan di Ain Al-Figeh, dan mengerahkan pendukung untuk mempersiapkan tahap kedua operasi militer di sana.

Berbagai upaya untuk mewujudkan perujukan antara gerilyawan dan pemerintah telah dilancarkan di tengah laporan mengenai ketidaksepakatan antara gerilyawan dan Front An-Nusra, yang memiliki hubungan dengan Al-Qaida dan mencemari air minum.

Sementara itu, Radio Sham FM, mengutip pejabat di lembaga pemasok air, melaporkan satu rencana darurat diberlakukan untuk menyediakan air sebanyak 30 sampai 35 liter per hari untuk satu keluarga.

Gerilyawan, katanya, telah memasang perangkap di mata air di Ain Al-Figeh, dan mengalihkan air ke Sungai Barada untuk mengurangi pasokan air ke ibu kota.

Kekurangan air tersebut memaksa warga Damaskus menggunakan air dalam kemasan botol, sementara pemerintah mengirim bertruk-truk air botol ke pelosok kota, untuk dijual dengan harga resmi dan mencegah upaya monopoli.

Gerilyawan telah berulangkali berusaha memanfaatkan air sebagai senjata, guna menekan pemerintah agar menghentikan serangannya terhadap gerilyawan di tempat sumber air berada.


Editor: Tian Arief

Tian Arief
27-12-2016 11:02