Main Menu

Gaza Yang Terabaikan

Rosyid
29-12-2016 10:38

Gaza, GATRANews - Ratusan keluarga di Gaza masih tinggal di tempat-tempat penampungan sementara sejak perang 2014 yang menghancurkan rumah-rumah mereka. Nasib mereka terkatung-katung dan tidak ada kepastian kapan mereka bisa kembali membangun rumah mereka.

 
Menjelang musim dingin kesulitan semakin bertambah. Samia Qudaih dan suaminya Muhammad Baraka, orang tua dari enam anak yang tinggal di Al Zanah, Khan Younis, adalah satu dari ribuan keluarga Gaza yang terbaikan. Mereka masih tinggal di penampungan sementara sejak dua tahun lalu. Dengan plastik nilon mereka melapisi tempat tinggalnya untuk menghadapi musim dingin.

"Kami bersiap-siap menghadapi masa-masa sulit baru," kata Muhammad pada Al Jazeera, Kamis (29/12). "Kami tidak tahu apakah kami akan bangun pagi dengan selamat atau  menjadi judul berita koran setelah kematian kami." 

Selain menyalahkan Israel, warga Gaza juga menyalahkan Mesir dan Otoritas Palestina di Ramallah atas situasi yang dihadapi sekarang.

Pantauan Bank Dunia yang mengawasi pembangunan kembali kawasan itu mencatat kurang dari separuh rumah warga yang bisa dibangun kembali dua tahun setelah perang usai.  Ribuan keluarga juga belum menerima dana pembangunan rumah mereka. 
"Rekonstruksi di Gaza telah dijegal," kata Adnan Abu Hasna, jurubicara United Nation Relief and Works Agency (UNRWA). "Negara-negara yang menjanjikan bantuan miliaran untuk membangun kembali Gaza untuk sungguh-sungguh menempati janjinya."

Saat konfrensi di Cairo tahun 2014, negara-negara donor menjanjikan bantuan total hingga USD 3,5 miliar untuk membangun kembali Gaza.  Hingga musim panas tahun ini, baru 46 persen dari total komitmen yang telah disalurkan. Jika semua negara mencairkan seluruh komitmennya, maka Gaza bisa dibangun seluruhnya pada tahun depan kata Abu Hasna. Namun komitmen itu sulit diharapkan karena perhatian donor dialihkan oleh berbagai konflik regional di Suriah, Libya, Yaman dan Irak."Keterlambatan pembangunan tidak hanya mempengaruhi kehidupan warga tapi juga ekonomi wilayah Gaza,"tambahnya.

UNRWA telah menyalurkan USD 4 juta untuk membangun penampungan sementara bagi sekitar 9000 keluarga yang kehilangan rumah dalam perang 2014.

Kunci utama penyebab molornya pembangunan Gaza adalah pengepungan Israel. Negara Yahudi itu mengontrol dan memeriksa semua bahan bangunan yang dikirim ke Gaza dengan alasan agar bahan-bahan tersebut tidak dialihkan ke pejuang Hamas. UNRWA mengatakan, Israel juga mempersulih izin pembangunan rumah. Proses yang bisa bertahun-tahun. Bahkan pada akhirnya Israel menolak memberi ijin pembangunan rumah.

Faktor lain molornya pembangunan adalah konflik Fatah dan Hamas. Situasi yang berbelit-belit juga membuat negara donor frustasi dalam menghadapi dualisme kepimpinan di Palestina.

Sementara pertikaian politik belum terselesaikan, penduduk Gaza menjadi korban. korban perang yang menderita cacat menghadapi kesulitan tambahan. banyak bangunan baru tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk orang cacat sehingga semakin menambah kesulitan mereka dalam melanjutkan kehidupan sehari-hari seperti dilaporkan Union of Palestinian Medical Relief Committees.

Menurut PBB, perang 2014 menewaskan lebih dari 2000 warga Palestina dan menghancurkan ribuan rumah di Gaza dan merusak 70 persen infrastruktur disana.


 

Editor: Rosyid

Rosyid
29-12-2016 10:38