Main Menu

Pro Kontra Trump Rudal Suriah: Rusia Marah tapi Turki Puji

Dani Hamdani
07-04-2017 14:52

Vladimir Putih (AFP)Jakarta, GATRANews - Turki dan Rusia, adalah dua negara yang saat ini paling aktif terlibat dalam pertempuran di Suriah, memberikan reaksi yang berbeda atas serangan 59  rudal Tomahawk Amerika ke Suriah, menyusul serangan senjata kimia ke Idlib, Selasa lalu. Rusia mengecam keras, sementara Turki senang dan memuji langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghukum pemerintahan Suriah.

 

Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut serangan peluru kendali ke pangkalan udara Suriah itu melanggar hukum internasional dan telah merusak hubungan AS-Rusia.

 

Pemimpin Rusia itu menyebut aksi AS itu agresi terhadap sebuah negara berdaulat, sebagai dalih (untuk intervensi lebih jauh di Suriah), dan sebagai upaya mengalihkan perhatian dunia terhadap banyaknya korban sipil di Irak, kata juru bicara Presiden Putin, Dmitry Peskov, seperti dikutip Reuters.

 

Baca Juga:

Amerika Luncurkan 59 Rudal ke Suriah Pasca Serangan Bom Kimia

Kerajaan Arab Saudi Puji Trump Gempur Suriah

 

AS berdalih telah memberitahu pasukan Rusia sebelum melancarkan serangan peluru kendali itu dan menjamin rudal tidak akan menyasar posisi-posisi militer Rusia di pangkalan itu.  Kendati menegaskan tidak ada bagian Rusia di pangkalan itu yang dihajar Tomahawk, AS menandaskan bahwa pihaknya tidak membutuhkan persetujuan Rusia untuk merudal Suriah.

 

Namun sebaliknya, Turki menyebut serangan rudal AS itu berpengaruh positif dan menyeru dunia untuk teguh melawan kebarbaran pemerintah Suriah.

 

Dalam wawancara dengan FOX TV edisi Bahasa Turki, Wakil Perdana Menteri Numan Kurtulmus menyatakan bahwa pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad harus sepenuhnya dihukum di arena internasional dan bahwa proses perdamaian di Suriah mesti dipercepat.


Editor: Dani Hamdani 

Dani Hamdani
07-04-2017 14:52