Main Menu

Pemerintah Arab Saudi Bantah Akan Izinkan Perempuan Nyetir 

Dani Hamdani
10-04-2017 15:17

Wanita Saudi Arabia belum dijinkan Menyetir (AFP)Riyadh, Arab Saudi, GATRANews - Isu perempuan Nyetir atau mengemudikan kendaraan di Kerajaan Saudi Arabia masih jadi bahasan sensitif. Karena itu kabar di media sosial bahwa perempuan akan diizinkan mengemudi pada Mei ramai jadi pembicaraan. Karena itu Direktur Jenderal Lalu-Lintas Kolonel Tariq Ar-Rabiaan langsung membantah laporan tersebut.

 

"Tak ada pengumuman semacam itu," ujar Kolonel Tariq seperti diwartakan media lokal Ar-Riyadh pada Ahad (9/4/17). 


Arab Saudi melarang perempuan mengemudi. Larangan itu, menurut The Independent.co.uk, datang dari Menteri Dalam Negeri Saudi sejak 1957.

 

Arab Saudi menerapkan pemisahan gender di dalam segala lapisan masyarakat. Beberapa perempuan telah ditangkap dalam beberapa tahun belakangan, setelah mereka didapati mengemudi.

Dan belakangan memang sedang ramai kampanye soal perempuan mengemudi di Saudi di sosial media lewat berita pagar #resistancebywalking. Bahkan secara provokatif perempuan bernama Mariam Alhubail.

 

Lwat akun @ms_freespeech ia berujar: “Kami ingin menyeru watia untuk berjalan sendiri atau melakukan aktivitas sehari-hari dan tolak harus bersama seorang pria untuk melakukan itu," ujarnya.

 

Di Saudi Arabia memang wanita tidak boleh keluar rumah sendirian, tanpa pria dewasa yang masih saudaranya menyertai.  

 

Dia melanjutkan: “Saya jalan sendiri, hingga kami memiliki jalan lagi."

 

"Mereka tidak keberatan saya menyebrang jalan ketika jalan kaki. Lalu kenapa mereka melarang kami mengendarai mobil," ujar wanita lain di Twitter seperti dilaporkan Independent pada Rabu 5 April 2017n lalu.

 

Tak cuma itu disebar juga beberapa gambar wanita berjalan sendiri di pinggir jalan sambil mem-video-kan dan menyebar di sosial media.

 

Dukungan Pangeran Alwaleed

 

Dukungan perempuan mengemudi datang dari pangeran yang sangat berpengaruh AlWaleed bin Talal. Lewat akun twitternya @alwaleed_Talal pada 30 November lalu ia berujar "Hentikan perdebatan. Kini saatnya wanita mengemudi."

 

Walau tak punya kuasa politik, Alwaleed memegang tampuk perusahaan pengelolaa keuangan kerajaan, dan memiliki saham di banyak perusahaan seperti CityGroup, Euro Disney, Google dan lain-lain. 

 

Menurut Pangeran Alwaleed, tidak membolehkan perempuan mengemudi saat ini menyangkut isu persamaan gender, sehingga sama seperti melarang perempuan mendapatkan pendidikan.

 

"Larangan itu datang dari aturan tradisi daripada larangan atau perintah agama," ujar Alwaleed.

 

Alwaleed kemudian menghitung biaya akibat larangan mengemudi. Menurutnya, karena kurangnya alat transportasi publik, maka wanita harus bepergian menggunakan taksi atau sopir pribadi.

 

Menurut Alwaleed, setiap tahun bermiliar dolar ekonomi Saudi dihabiskan untuk membayar sopir dari luar negeri. Dia menghitung sebuah keluarga rata rata menghabiskan US$ 1.000 untuk membayar seorang sopir, uang yang sangat berharga untuk setiap keluarga, ujarnya. 

 

"Wanita boleh menyetir menjadi desakan kebutuhan sosial dan masyarakat, khususnya dalam situasi ekonomi saat ini," ujar Al Waleed.

 

Mulai berkurangnya larangan pada wanita mulai terjadi di akhir kekuasaan almarhum Taja Abdullah. Pada 2013, diijinkan wanita duduk dalam Majelis Syura, yang merupakan penasihat kabinet. Raja Abdullah juga mengumumkan wanita boleh ikut memilih dan mencalonkan diri pada pemilihan anggota dewan daerah. Keputusan Raja Abdullah itu juga mendapat tentangan, tapi diam-diam, oleh beberapa kalangan di Saudi.

 

Nah dukungan dari Alwaleed soal wanita nyopir ini disambut hangat aktivis perempuan. Sahar Hassan Nasief, seorang aktivis hak asasi manusia dari kota Laut Merah, Jeddah, menyatakan dukungan dari figur publik soal mengendarai itu akan sangat membantu.

 

"Kini tiap orang membicarakan dia [Alwaleed]" ujarnya seperti dilaporkan AFP. "Saya kira komentar dia memberi kita secercah harapan."


Editor: Dani Hamdani 

Dani Hamdani
10-04-2017 15:17