Main Menu

Dua Kapal Perang AS tiba di Qatar, Ikuti Latihan Gabungan

Dani Hamdani
15-06-2017 13:17

Kapal Angkatan Laut AS (AFP/Karim Jaafar/HR02)

Doha, GATRANews - Dua kapal Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) tiba di Teluk pada Rabu (14/6) untuk latihan gabungan dengan armada Angkatan Laut Qatar menurut laporan media pemerintah Qatar.



Kapal-kapal Amerika Serikat tiba di Pelabuhan Hamad di selatan Doha "untuk berpartisipasi dalam latihan gabungan dengan Angkatan Laut Emirat Qatar" menurut pernyataan Kementerian Pertahanan yang dikutip Qatar News Agency. 

 
Belum jelas kapan latihan gabungan tersebut dipersiapkan, tetapi itu akan berlangsung di tengah krisis yang mendera negara-negara Teluk. 

 
Arab Saudi dan sekutunya memberlakukan "blokade" politik dan ekonomi terhadap Qatar sebagai protes terhadap dukungan Doha bagi kelompok-kelompok ekstremis dan hubungan dekatnya dengan Iran. Tindakan tersebut didukung oleh sejumlah negara termasuk Bahrain, Uni Emirat Arab dan Mesir. 

 
Qatar membantah keras tudingan tersebut dan mengklaim negara-negara tetangganya berusaha intervensi kebijakan luar negeri Doha. 

 
Atas ketegangan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampak mendukung sekali Arab Saudi. Pada Jumat lalu, (9/6/17) di Gedung Putih Trump berujar: "Negeri Qatar sayangnya telah mendanai teroris, dan pada tingkat sangat tinggi," ujarnya.
 
Lalu dia menambahkan, "Waktunya sudah tiba untuk meminta Qatar mengakhiri pedanaan tersebut."
 
Namun ironisnya, pada Rabu kemarin, Menteri Pertahanan Amerika Serikat dan Menhan Qatar menken perjanjian jual beli pesawat tempur F-15 senilai US$ 12 miliar.
 
Ironi lain, pangkalan udara terbesar Amerika Serikat di Timur Tengah, Al Udeid, berada di Qatar. Pangkala senilai 60 juta dollar itu menjadi rumah bagi sekitar 10.000 tentara Amerika Serikat di kawasan teluk.
 
Dan Qatar tidak pernah meningggung-nyinggung soal pangkalan tersebut, sebelum maupun setelah krisis diplomatik tersebut. Padahal, menurut Duta Besar Qatar di Amerika Serikat Meshal bin Jamad al Thani, pangkalan itu dipilih ketika tak ada satupun negara teluk mau.
 
"Ketika tidak satupun mau menjadi tuan rumah tentara anda, setelah 9/11, kami menerima. Kami melindungi mereka. Saudi Arabia malah meminta anda pergi," kata Meshal bin Jamad al Thani.

Editor: Dani Hamdani 

Dani Hamdani
15-06-2017 13:17