Main Menu

LIPI: Indonesia Bisa Jadi Fasilitator Masalah Qatar

Iwan Sutiawan
19-06-2017 11:53

Kota Doha, Qatar (AFP/Patrick Baz/HR02)

Jakarta, GATRAnews - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menilai Pemerintah Indonesia harus melakukan sejumlah langkah strategis yang tidak berisiko secara nasional dan juga tidak memengaruhi ketegangan politik di kawasan Timur Tengah terkait Qatar.



"Dalam menyikapi konflik Qatar dan krisis diplomatik di Timur Tengah, Indonesia perlu membuat langkah-langkah strategis yang tidak berisiko," kata Nostalgiawan Wahyudhi, peneliti tentang agama dan politik dari LIPI di Jakarta, Senin (19/6).

Langkah strategis hasil kajian LIPI bertajuk "Qatar dan Masa Depan Politik Timur Tengah" yang direkomendasikan, pertama; pemerintah Indonesia hendaknya tidak mengambil sikap politik luar negeri yang terlalu hitam putih.

"Tidak berpihak terhadap satu kubu, serta mendorong upaya untuk merajut kembali diplomatik yang terputus antara Qatar dengan dengan negara sekitarnya," kata pria yang akrab disapa Wawan ini.

Kedua, lanjut Wawan, Pemerintah Indonesia bisa menawarkan diri sebagai fasilitator perdamaian, bukan mediator. Secara rasional, sebagai middle power, Indonesia belum memiliki diplomatic perssure yang kuat terhadap negar-negara yang bersiteng, sehingga peran sebagai mediator kurang efektif.

"Tetapi sebagai negara yang jumlah muslim terbesar dunia, Indonesia berpotensi kuat sebagai fasilitator yang menyediakan tempat dialog perdamaian antara Qatar dan negara-negara yang bersitegang," ujarnya.

Ketiga, lanjut Wawan, negara super power seperti Amerika Serikat (AS), Rusia, dan Tiongkok atau organisasi internasional, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memiliki potensi kuat menjadi mediator yang efektif dalam ketegangan diplomatik tersebut.

"Diharapkan negara-negara tersebut lebih netral dalam menyikapi ketegangan politik di Timur Tengah," kata Wawan.


Reporter: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
19-06-2017 11:53