Main Menu

Dubes Nurul: Palestina Harus Tetap Jadi Isu Utama Internasional

Iwan Sutiawan
24-11-2017 01:29

Seorang pemuda membawa bendera Palestina (AFP Photo/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Duta Besar (Dubes) Nurul Aulia mengatakan, harus kembali menguatkan isu tentang penyelesaian masalah Palestina dengan Israel akibat tertutup dengan kabar konflik di Timur Tengah (Timteng). Termarginalisasinya soal Palestina itu menguntungkan Israel.


"Ini yang harus kita benahi. Kita harus kembalikan sentralitas isu Palestina dalam agenda internasional. Palestina ada dalam nafas Polugri RI," kata Nurul dalam seminar "Kebijakan Luar Negeri Indonesia di Timur Tengah" di Universitas Islam Bandung (Unisba), Kamis (23/11).

Nurul di hadapan sekitar 450 audiens terdiri mahasiswa dan dosen dari berbagai jurusan dan fakultas di kampus biru tersebut menyampaikan, energi dunia Arab akhir-akhir ini justru dihabiskan untuk konflik di antara negara-negara Arab itu sendiri.

Dengan demikian, lanjut Nurul dalam keterangan tertulis yang diterima Gatra.com di Jakarta, Israel memiliki ruang strategis untuk melanjutkan agenda pendudukannya, meski bertentangan dengan resolusi-resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Untuk menyikapi hal itu, Pemerintah Indonesia berupaya mendekati negara-negara Arab dan mendorong mereka untuk menyelesaikan setiap permasalahan dengan cara-cara damai dan tanpa kekerasan.

Pemerintah Indonesia juga terus-menerus menjaga agar isu Palestina tetap berada di posisi teratas prioritas penyelesaian masalah di Timur Tengah. Hampir dalam setiap pertemuan dengan para counterpart-nya, khususnya pemimpin negara-negara Arab dan Islam, baik Presiden RI maupun Menteri Luar Negeri RI selalu mengangkat isu Palestina untuk dibahas.

Selain itu, lanjut Nurul, Indonesia juga terus-menerus memberikan bantuan dalam berbagai bentuk. Di antaranya, pemberian program capacity building untuk 1.811 PNS, polisi, dan warga Palestina. Ada pula hibah cardiac center untuk RS Al Shifa di Gaza senilai Rp 20 milyar dan pendirian Rumah Sakit Indonesia di Gaza hasil inisiatif LSM MER-C.

Nurul menggarisbawahi prinsip-prinsip dasar kebijakan luar negeri Indonesia di Timur Tengah. Prinsip-prinsip tersebut antara lain kebijakan bebas aktif yang diabdikan bagi kepentingan nasional, bersahabat dengan semua bangsa dan negara atas dasar saling menghargai dan menghormati.

Kemudian, mendukung penyelesaian konflik melalui cara-cara damai dan dialog inklusif, serta berkontribusi dalam memperkuat sendi-sendi hukum internasional dan organisasi internasional guna mewujudkan perdamaian dan keamanan di kawasan.

Selain di bidang politik, Indonesia juga mendorong peningkatan kerja sama ekonomi dengan Timur Tengah yang diarahkan untuk memperluas pasar produk ekspor Indonesia. Diplomasi Indonesia juga diarahkan untuk menarik investasi dari Timur Tengah, memanfaatkan pasar proyek infrastruktur dan tenaga kerja profesional di Timur Tengah serta mendorong BUMN dan swasta Indonesia untuk memanfaatkan peluang investasi di Timur Tengah termasuk di negara-negara Afrika Utara.

Dalam seminar yang dibuka Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi, S.H., M.H. tersebut, juga dihadirkan dua narasumber lainnya yaitu Duta Besar Deddy Saiful Hadi. Duta Besar RI untuk Qatar periode 2012-2016 ini memaparkan pengalaman peningkatan hubungan RI-Qatar dan potret peran strategis Qatar dalam konstelasi politik Timur Tengah khususnya periode 2012-2016.

Adapun narasumber ketiga adalah Dr. M Husni Syam, S.H., LL.M selaku Ketua Bagian Hukum Internasional Fakultas Hukum Unisba menjelaskan aspek-aspek hukum internasional hubungan RI-Timur Tengah. 


Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
24-11-2017 01:29