Main Menu

Korban Meninggal Bom Sinai 235 Orang, Mesir Tetapkan Berkabung Nasional

Birny Birdieni
24-11-2017 23:46

Masjid Al-Rawda (AFP Photo/yus4)

Sinai Utara, Gatra.com- Merespon serangan bom dan senjata melanda Masjid al-Rawda, di Bir al-Abed, Provinsi Sinai Utara, Mesir Jumat (24/11), Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi memanggil para menterinya. Tidak hanya itu, sebagai duka atas aksi brutal itu pemerintah menetapkan hari berkabung nasional selama tiga hari.

 

Jumat siang ini sebuah serangan brutal terjadi di masjid yang berada sekitar 40 km dari ibu kota Sinai Utara, El-Arish. Insiden mematikan yang terjadi saat para jamaahnya ibadah salat Jumat itu menewaskan 235 orang.  Ini merupakan serangan paling mematikan sejak pemberontakan Islam terakhir yang terjadi pada 2013 lalu.

 

Dikutip dari BBC, polisi setempat mengatakan bahwa orang-orang bersenjata tiba dengan menggunakan empat kendaraan offroad dan mengebom masjid yang penuh orang beribadah. Sebelum melepaskan tembakan para jamaah mencoba melarikan diri. Namun Penyerang telah menyetel kendaraan yang diparkir terbakar di sekitar dan memblokir akses ke masjid.

 

Gambar dari adegan menunjukkan deretan korban berdarah di dalam masjid. Sedikitnya ada 100 orang terluka. "Mereka menembaki orang-orang sesaat mereka meninggalkan masjid," kata seorang penduduk setempat yang memiliki kerabat di sana mengatakan kepada kantor berita Reuters. Bahkan mereka juga menembaki ambulance.

 

Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan militan paling mematikan dalam sejarah Mesir modern itu. Namun penduduk setempat mengatakan bahwa jamaah masjid itu merupakan pengikut "tasawuf" atau mistisisme Islam yang secara teratur berkumpul disana.

 

Beberapa kelompok jihad, termasuk yang disebut Islamic State (IS) melihat kaum sufi sebagai orang-orang yang sesat. Namun korban dalam serangan ini bukan hanya kaum sufi, namun termasuk dari kalangan militer juga.

 

Militan Islam telah melancarkan pemberontakan di semenanjung Sinai dalam beberapa tahun terakhir. Mereka meningkatkan serangan setelah militer Mesir menggulingkan Presiden Islam Mohammed Morsi pada demonstrasi anti-pemerintah massa Juli 2013 lalu. Sejak saat itu, ratusan polisi, tentara dan warga sipil terbunuh. Sebagian besar serangan itu dilakukan kelompok Provinsi Sinai yang terafiliasi dengan IS.

 

September lalu, setidaknya ada 18 polisi tewas ketika kelompok tersebut menyerang sebuah konvoi dekat al-Arish. Mereka juga telah melakukan serangan mematikan terhadap minoritas Kristen Koptik Mesir. Termasuk mengebom sebuah pesawat Rusia yang membawa wisatawan ke Sinai pada tahun 2015 dan menewaskan 224 orang di dalamnya.

 

Ini telah beroperasi terutama di Sinai Utara, yang berada di bawah keadaan darurat sejak Oktober 2014. Ketika itu, 33 petugas keamanan tewas dalam serangan yang diklaim oleh kelompok IS tersebut. Jihadis Provinsi Sinai itu diperkirakan ingin menguasai Semenanjung Sinai dan mengubahnya menjadi provinsi Islam yang dijalankan oleh IS.

 


 

Editor : Birny Birdieni

 

Birny Birdieni
24-11-2017 23:46