Main Menu

Teror Kabul Ulah Taliban, Ini Strategi Trump di Afghanistan

Birny Birdieni
29-01-2018 14:52

(AFP/WAKIL KOHSAR/AK9)

Kabul, Gatra.com- Pemerintah Afghanistan menetapkan sebagai hari berkabung nasional setelah serangan pengeboman rumah sakit yang menewaskan 103 orang terjadi di Kabul, Sabtu (27/) siang lalu. Pihak Taliban mengklaim bertangggung jawab atas serangan tersebut. 

 

Serangan Sabtu tersebut menyusul baku tembak senjata yang terjadi sepekan sebelumnya di Hotel Intercontinental Kabul dengan korban tewas 22 orang. Lalu serangan bunuh diri di kantor Save the Children di Jalalabad serta seragan di Pusat Kebudayaan Kabul pada akhir bulan lalu dengan membunuh lebih dari 40 orang. 

 

Dalam setahun terakhir, Taliban telah menjadi lebih kuat di banyak provinsi Afghanistan. Berdasarkan hasil penilaian Pemerintah Amerika Serikat, setidaknya mereka mengkontrol 40% bagian negara tersebut.

 

Fakta hubungan AS dengan Pakistan yang memburuk dengan tajam juga turut memperparah kondisi tersebut. Sebab selama ini Pakistan dinilai sebagai pemain penting di sana. Pun demikian, pemerintah pusat di Kabul juga dalam keadaan lemah dan terbagi.

 

Terkacaukan dengan upaya perlawanan kekuatan gubernur provinsi berkuasa, Atta Muhammad Noor, yang dipecat namun menolak mengundurkan diri. Korupsi pun menjadi endemik, terutama di dalam kepolisian nasional.

 

Kini pertumpahan darah terus berlanjut. Sedikitnya 7.000 anggota pasukan keamanan Afghanistan telah tewas dalam satu tahun terakhir. Menurut PBB, dalam sembilan bulan pertama tahun 2017 ada 2.640 kematian warga sipil. Meski masih mungkin ada korban lain yang tidak tercatat. Dua pertiga berasal dari kelompok anti-pemerintah.

 

Ada keberhasilan lokal. Pasukan keamanan Afghanistan dengan panduan AS telah membersihkan Taliban di provinsi Helmand yang sangat bermasalah. Namun seperti mantan ajudan Jenderal, Kosh Sadat dan mantan komandan pasukan AS di Afghanistan, Stanley McChrystal paparkan di Majalah "Foreign Affairs", saat ini Afghanistan sedang berjuang untuk bertahan hidup. Kehadiran dan pengaruh Taliban kemungkinan berada pada tingkat tertinggi sejak kelompok tersebut kehilangan kekuasaan tahun 2001 silam.

 

Di ajang World Economic Forum (WEF), Davos, Swiss, Jumat (26/1) lalu,  Presiden Donald Trump pun mengatakan kalau Afghanistan akan menjadi fokus berikutnya, seiring dengan keberhasilannya dalam pemberantasan terorisme di Irak dan Suriah. Ia menegaskan ini akan jadi pekerjaan berikutnya untuk memastikan Afghanistan tidak pernah lagi menjadi tempat aman bagi teroris. 

 

Bila demikian, lalu seperti apa strategi Trump di Afghanistan ?

 

Trump mengemukakan kebijakan Afghanistan pada Agustus lalu. Yakni melakukan penambahan pasukan sebanyak 8.400 tentara hingga totalnya mencapai 13.000. Pada akhirnya, menargetkan sebanyak 16.000 pasukan. Ia juga menyerahkan keputusan tersebut kepada para komandan di lapangan. 

 

Kebijakan Trump memang menekankan pada pendirian pasukan Afghanistan. "Semakin kuat pasukan keamanan Afghanistan, semakin sedikit yang harus kita lakukan," kata Presiden ke-45 tersebut dilansir dari CNN. 

 

Kebalikan dari apa yang telah ia janjikan saat masih menjadi kandidat calon presiden AS, yakni untuk keluar dari Afghanistan. "Kami bukan pembangunan bangsa lagi, kami membunuh teroris," kata Trump beralibi. 

 

Permasalahannya, dalam perang melawan Taliban ini AS tidak mendapat banyak bantuan dari masyarakat internasional. Sekutu memiliki kurang dari 3.000 tentara di Afghanistan. Pada 2011, AS dan mitranya memiliki sekitar 130.000 tentara di sana. 

 

Posisi AS juga berselisih dengan Rusia di Afghanistan. Jenderal tertinggi AS di Afghanistan mengatakan pada April tahun lalu bahwa dia "tidak menyangkal" laporan kalau Rusia memberikan senjata kepada Taliban. Rusia membantah telah memberikan senjata kepada Taliban. Pada gilirannya, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov telah menggambarkan ketergantungan AS pada pasukan lain sebagai "jalan buntu." 

 


Editor : Birny Birdieni

Birny Birdieni
29-01-2018 14:52