Main Menu

Butuh US$88 Milyar Bangun Irak Kembali, Amerika Tidak Berencana Bantu

Birny Birdieni
12-02-2018 21:31

Menteri Perencanaan Salman al-Jumaili(kanan)(Reuters/re1)

Kuwait, Gatra.com- Setelah tiga tahun perang melawan ISIS, setidaknya butuh biaya sebesar US$88 milyar untuk membangun kembali Irak. Dimana fokus pembangunannya adalah kembali membuat perumahan sebagai prioritas utama.

 

Irak mengumumkan kemenangan atas negara Islam pada bulan Desember lalu, setelah merebut kembali semua wilayah yang ditangkap oleh militan pada tahun 2014 dan 2015. Para pejuang juga telah banyak dikalahkan di negara tetangga Suriah.

 

Pekan ini, para donatur dan investor pun telah berkumpul di Kuwait untuk membahas upaya membangun kembali ekonomi dan infrastruktur Irak. Kerusakan muncul dari konflik militan garis keras yang menguasai hampir sepertiga negara tersebut.

 

Dalam Konferensi Donor Internasional, Senin (12/2), Direktur Jenderal Kementerian Perencanaan Irak, Qusay Adulfattah mengatakan, kebutuhan anggaran dalam jangka pendek adalah sekitar US$23 milyar. Sedangkan jangka menengah akan butuh lebih dari US$65 milyar. 

 

"Membangun kembali Irak adalah memulihkan harapan Irak. Juga memulihkan kembali stabilitas Irak serta menstabilkan negara-negara kawasan dan dunia," kata Menteri Perencanaan Salman al-Jumaili dilansir dari Reuters.

 

Setidaknya ada tujuh provinsi yang diserang militan dengan nilai kerusakan langsung sebesar US$46 milyar. Termasuk penghancuran 147.000 unit rumah, dan kerugian pasukan keamanan sebesar US$ 14 milyar. 

 

Puluhan milyar lainnya hilang secara tidak langsung melalui kerusakan pada ekonomi lebih luas dan bertahun-tahun. Serta  pertumbuhan yang hilang.

 

Irak Terbitkan daftar 157 Nama Proyek Buka Investasi 

 

Ada beberapa investasi yang kembali dibuka Irak. Diantaranya adalah membangun kembali fasilitas hancur, seperti bandara Mosul. Lalu investasi baru untuk diversifikasi ekonomi penjualan minyak mentah, pengembangan industri transportasi, pertanian serta minyak termasuk petrokimia dan penyulingan.

 

Kemudian membangun kembali rumah, rumah sakit, sekolah, jalan, bisnis dan telekomunikasi. Ini akan menjadi kunci untuk menyediakan lapangan kerja bagi kaum muda. Juga mengakhiri perpindahan ratusan ribu orang. Serta mengakhiri puluhan tahun kekerasan politik dan sektarian.

 

Sekretaris Jenderal Dewan Menteri Irak Mahdi al-Alaq mengatakan bahwa PBB diharapkan dapat membantu dengan bertindak sebagai penjamin dengan kreditur.Sehingga memungkinkan Irak mendapat pinjaman lunak untuk mendanai proyek infrastruktur.

 

Pejabat Amerika Serikat mengatakan, tidak berencana menjanjikan dana di Kuwait. Padahal "Negeri Paman Sam" ini merupakan negara yang menduduki Irak dari tahun 2003-2011 dan sekarang memimpin koalisi internasional dan memberikan dukungan militer melawan Negara Islam.

 

Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Irak, Lise Grande mengatakan bahwa kegagalan untuk membantu Irak dapat menyebabkan ketidakstabilan yang baru. "Jika masyarakat internasional tidak membantu pemerintah Irak untuk menstabilkan kawasan ini (hancur karena perang), keuntungan terhadap Daesh bisa berisiko," katanya, menggunakan "Daesh" akronim bahasa Arab untuk Negara Islam.

 

Transparency International menyebutkan bahwa investor merangking Irak sebagai sebagai negara paling korup ke-10 di dunia. Namun Baghdad bertekad bahwa pihaknya akan mengatasi masalah birokrasi dan korupsi yang menghambat investasi. 

 

Meski demikian, kantor berita Kuwait KUNA melaporkan bahwa organisasi non-pemerintah menjanjikan bantuan kemanusiaan sebesar US$330 juta. 

 

Irak telah menderita puluhan tahun perang. Ini pertarungan melawan Iran pada tahun 1980-an. Kemudian tahun 1990 serangan koalisi Amerika pada Kuwait menyebabkan kekalahan besar dengan sanksi lebih dari satu dekade. 

 

Lalu invasi yang dipimpin Amerika tahun 2003 juga menggulingkan diktator Saddam Hussein dan diikuti oleh bertahun-tahun pendudukan, pemberontakan dan konflik sektarian dan etnis. Hingga akhirnya pada 2014 muncul Khilafah Negara Islam ISIS.

 

Setelah tahun 2003, Irak membuka kembali investasi asing. Dimana sebagian besar biayanya digunakan untuk meningkatkan produksi minyak dan gas alam.

 


Editor : Birny Birdieni

Birny Birdieni
12-02-2018 21:31