Main Menu

Begini Cara Tim Haji Mengidentifikasi Mayat Korban Mina

Dani Hamdani
28-09-2015 15:39

Jamaah Haji korban tragedi di Mina (AFP/STR)

Mekah, GATRAnews - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menunda kepulangannya ke Tanah Air untuk lebih fokus memantau para korban tragedi Mina. Menag memantau langsung proses kerja tim Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dalam mengidentifikasi jenazah di Majma’ ath-Thawary bil Mu’aishim yang menjadi tempat pemulasaraan jenazah korban peristiwa Mina.

 

 

Ikut dalam monitoring identifikasi jenazah ini, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Abdul Djamil, Irjen Kemenag M Jasin, Direktur Pembinaan Haji dan Umrah Muhajirin Yanis, Direktur Pelayanan Haji luar Negeri Sri Ilham Lubis, Direktur Pengelolaan Dana Haji Ramadan Harisman, Kepala Pusat Informasi dan Humas Rudi Subiyantoro, serta staf khusus Menag Hadi Rahman dan Sekretaris Menag Khoirul Huda.

 

Seperti dilaporkan Media Center Haji Indonesia dalam kunjungan itulah diketahui sudah ada 1.150 foto korban yang dipajang di tempat pemulasaraan  jenajah. Dalam kunjunagn itu pula, Menag mendapat penjelasan bagaimana teknis identifikasi mayat dari Fadil, tim Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).

 

Menurut Fadil, jenazah korban peristiwa Mina disimpan dalam beberapa kontainer berpendingin udara. Ketika pemeriksaan akan dimulai, kontainer dimasukan satu persatu ke ruangan identifikasi.

 

“Sistemnya kontainer masuk, jenazah turun, identifikasi ada barang apa, lalu masukan ke file, setelah itu kontainer keluar dan masuk lagi kontainer selanjutnya. Sekarang ini masih ada 4 kontainer,” ujar Fadil.

 

Menurut Fadil, dalam proses identifikasi, setelah jenazah diturunkan, maka akan difoto untuk dirilis dan diberi nomor jenazah. Bersamaan dengan itu, dokumen atau benda apapun yang melekat pada jenazah akan diambil untuk kemudian dimasukan dalam satu file (amplop) tersendiri yang juga diberi nomor jenazah.

 

Petugas haji, lajut Fadil, mengawali identifikasi jenazah dari foto-foto yang dirilis oleh Pemerintah Arab Saudi. Jika ada kemiripan, dilakukan proses cek lanjutan dengan mencocokan file yang tersimpan di gedung yang berbeda.

 

“Kalau dari segi fisiknya terlihat di foto ada kemiripan dengan Indonesia, kita cek ke filenya. Meski pernah sekali setelah dicek ternyata bukan orang Indonesia,” katanya.

 

Fadil mengaku proses identifikasi itu memang membutuhkan waktu. Pasalnya, ada kalanya foto sudah dirilis namun ketika akan dilakukan crosscheck ke file, ternyata file dengan nomor rilis foto yang ada belum keluar sehingg harus menunggu sampai file itu keluar.

 

“Ada juga yang fotonya sudah dirilis dan kita sudah menemukan, file tersebut belum muncul. Kita tunggu sekitar setengah jam, file itu baru muncul di ruang selanjutnya,” kisahnya.

 

Kepada Menag, Fadil mengatakan bahwa secara umum identitas jemaah ditemukan dengan petunjuk gelang. Namun ujar, Fadil ada juga  keberhasilannya mengidentifikasi jenazah jemaah haji yang ternyata hanya meninggalkan handphone.

 

Awalnya Fadil mengidentifikasi salah satu foto jenazah sebagai orang Indonesia. Setelah itu, dia melakukan pengecekan ke file jenazah tersebut sesuai dengan nomornya. 

 

“Setelah dicek ke file, ternyata tidak meninggalkan apa-apa, hanya sebuah handphone. Kita ambil simcard-nya, kita cek ke siapa dia menelepon terakhir dan sms. Dari situ diketahui kalau ternyata dia adalah WNI over stayer asal Malang yang sudah 15 tahun di sini dan akhirnya kita dapat,” ujarnya. 

 

Mendengar penjelasan tersebut,  Menag mengatakan bahwa informasi tentang bagaimana tim PPIH menelusuri jenazah harus dapat didokumentasikan dengan baik. “Ini menarik. Jadi berbagai variasi cara verifikasi itu dijelaskan,” kata Menag.

 

“Mekanisme cara kita memverifikasi juga harus didokumentasikan untuk bahan laporan. Begini loh proses verifikasi yang kita lakukan. Anda tadi menceritakan kronologis, ini lho foto-fotoya, cara kita mengidentifikasi, mengenali, nanti di jenazah difoto-foto juga cara kita mengidentifikasi,” ujar Menag Lukman Hakim Saefudin seperti dirilis situs resmi Haji Kementrian Agama.


 

Editor: Dani Hamdani 

Dani Hamdani
28-09-2015 15:39